Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Guaido Minta Aksi Unjuk Rasa Venezuela Dilanjutkan

Selasa 02 Apr 2019 11:33 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Sebuah gas air mata yang dilempar orang tak dikenal meledak di tengah kerumunan pendukung pimpinan oposisi Venezuela Juan Guaido di Caracas, Venezuela, Senin (1/4).

Sebuah gas air mata yang dilempar orang tak dikenal meledak di tengah kerumunan pendukung pimpinan oposisi Venezuela Juan Guaido di Caracas, Venezuela, Senin (1/4).

Foto: AP Photo/Natacha Pisarenko
Situasi saat ini memicu kemarahan warga terhadap pemerintahan Presiden Maduro.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido meminta pada para pendukung untuk terus turun ke jalan melakukan aksi protes terkait kekurangan listrik dan air, Senin (1/4).

"Setiap kali listrik padam atau kita tidak punya air atau kita tidak punya gas, tebak apa yang akan kita lakukan? Kami akan memprotes. Kami akan mengajukan tuntutan, kami akan turun ke jalan-jalan di Venezuela karena itu adalah hak kami," ucap Guaido dalam sebuah rapat umum.

Sebelumnya, warga Venezuela membakar barikade di dekat istana kepresidenan Caracas dan di bagian lain negara itu. Ini dilakukan sebagai bentuk protes atas pemadaman listrik dan kekurangan air minum setelah dua pemadaman besar bulan ini.

"Kami di sini berjuang untuk air dan listrik, kami melewati selama 20 hari tanpa air," kata seorang warga Yofre Gamez (32 tahun).

Situasi saat ini memicu kemarahan dari warga terhadap pemerintahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Banyak sekolah, perdagangan telah ikut terganggu karena masalah layanan publik ini selama hampir tiga pekan.

Beberapa pengunjuk rasa membawa batu dan menutupi wajah mereka. Lalu mereka membakar ban dan batang pohon di pusat kota Caracas menuntut Maduro memperbaiki situasi yang ada.

Protes serupa terjadi di bagian lain negara itu, termasuk negara bagian tengah Carbobo. Menurut saksi mata, para demonstran membakar ban, dan memblokir jalan. Di beberapa lingkungan Caracas, penduduk hanya mengibarkan bendera dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.

Venezuela mengalami pemadaman nasional selama sepekan mulai 7 Maret. Ini membuat rumah sakit tidak dapat merawat orang sakit, dan makanan juga menjadi cepat rusak. Kemudian listrik mulai padam lagi pada 25 Maret dan telah terputus sejak itu.

Menteri Informasi Jorge Rodriguez mengatakan dalam sebuah pernyataan, kegiatan sekolah, yang dibatalkan sebagian besar pekan lalu akan tetap ditangguhkan. Ia menyatakan, jam kerja hanya akan berjalan sampai pukul 14.00.

Pemerintah telah memberikan berbagai penjelasan terkait pemadaman listrik. Mulai dari serangan siber yang didukung Washington, hingga penembak jitu terkait dengan oposisi, menyebabkan kebakaran di bendungan pembangkit listrik tenaga air utama.

Sementara para kritikus bersikeras itu merupakan hasil dari lebih dari satu dekade korupsi, dan manajemen sistem kekuasaan yang tidak kompeten oleh pemimpin sosialis Hugo Chavez pada 2007.

Venezuela mengalami krisis politik pada Januari, saat Guaido meminta konstitusi untuk menjadi presiden sementara. Ia beralasan pemilihan kembali Maduro pada Mei 2018 tidak sah. Guaido telah diakui oleh sebagian besar negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, sebagai pemimpin sah Venezuela.

Maduro mengatakan Guaido merupakan boneka AS yang berusaha memimpin kudeta terhadapnya untuk merebut kendali cadangan minyak negara OPEC. Namun, Maduro tetap memegang kendali atas fungsi-fungsi negara dan mendapatkan kesetiaan dari para petinggi militer.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA