Kamis 04 Apr 2019 09:20 WIB

Warga AS Diculik di Uganda dengan Tebusan 500 Ribu Dolar AS

Berbagai kelompok terlarang beroperasi di Uganda.

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah
Peta Uganda.
Peta Uganda.

REPUBLIKA.CO.ID, KAMPALA -- Seorang perempuan dan sopirnya diculik di taman nasional satwa liar di Uganda. Polisi mengatakan mereka diculik oleh laki-laki bersenjata yang meminta tebusan sebesar 500 ribu dolar AS.

Kimberley Sue Endecott dan sopir asli warga Uganda Jean Paul sedang bersafari di Taman Nasional Queen Elizabeth. Polisi mengatakan tiba-tiba empat orang bersenjata menyerbu kendaraan mereka.

Baca Juga

Berbagai kelompok terlarang mulai dari ekstremis Somalia sampai pemberontak Kongo terkadang beroperasi di Uganda. Tapi identitas penculik Endecott dan Jean Paul belum diketahui. Dua orang tua yang berada di lokasi kejadian tidak diculik dan mereka menekan tombol peringatan.

"Saya mengira para penculik meninggalkan mereka karena mereka orang tua, para penculik mengambil barang-barang mereka," kata juru bicara pemerintah Uganda Ofwono Opondo, Kamis (4/4).

Belum diketahui apa hubungan Endecott dengan pasangan orang tua itu. Mereka tiba di Uganda pada 29 Maret lalu. Opondo mengatakan mereka langsung terbang menuju taman nasional. Kedutaan AS di Kampala tidak memberikan informasi tambahan tentang penculikan ini.

"Kami menanggapi dengan serius setiap ancaman terhadap warga AS di luar negeri, pasukan keamanan merespons insiden ini," kata Kedutaan Besar AS dalam pernyataan mereka.

Kelompok ekstremis Somalia al Shabaab kerap melancarkan serangan di Uganda. Tapi mereka belum pernah menculik dan meminta tebusan.

Taman Nasional Queen Elizabeth menjadi salah satu destinasi pariwisata yang paling terkenal di Uganda. Taman ini terletak sekitar 400 kilometer sebelah barat daya ibu kota Kampala. Taman ini berbatasan dengan Republik Demokratik Kongo yang menjadi rumah banyak kelompok pemberontak.

Polisi mengatakan penculik bermotif finansial karena mereka langsung meminta tebusan melalui telepon genggam Endecott. "Tim keamanan gabungan sudah menutup seluruh pintu keluar di wilayah perbatasan antara Uganda dan Kongo untuk mencari korban," kata pernyataan kepolisian setempat.

Mereka memperingatkan ada kemungkinan para penculik masih ada di dalam taman nasional. Pada 1999, pasangan AS, empat orang warga Inggris, dan dua warga Selandia Baru dibunuh bersama empat orang pemandu mereka ketika kelompok bersenjata masuk ke dalam Taman Nasional Bwindi Impenetrable. 

Mereka yang selamat mengatakan para pembunuh adalah kelompok pemberontak Hutu yang berasal dari Kongo. Bwindi berada sekitar 20 kilometer dari Taman Nasional Queen Elizabeth. Di tempat ini, para turis melihat singa, kuda nil, buaya, simpanse, dan satwa Afrika lainnya.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement