Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Lawan Pejawat, Komedian Ini Unggul di Pilpres Ukraina

Senin 01 Apr 2019 09:39 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Komedian Ukraina Volodymyr Zelenskiy saat konferensi pers usai pemilihan presiden di Kiev, Ukraina, Ahad (31/3).

Komedian Ukraina Volodymyr Zelenskiy saat konferensi pers usai pemilihan presiden di Kiev, Ukraina, Ahad (31/3).

Foto: AP Photo/Emilio Morenatti
Zelenskiy melawan pejawat Petro Poroshenko dan mantan perdana menteri.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Hasil exit poll (survei yang dilakukan segera setelah pemilih meninggalkan tempat pemungutan suara (TPS).) menunjukkan, seorang komedian tanpa pengalaman politik, Volodymyr Zelenskiy menjadi unggulan dalam putaran pertama pemilihan presiden Ukraina, Ahad (31/3).

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang Ukraina yang tidak memilih hanya untuk bersenang-senang. Ini hanya permulaan, kita tidak akan bersantai," kata Zelenskiy kepada pendukungnya.  

Zelensky (41 tahun) memimpin jajak pendapat dalam perlawanan melawan pejawat Petro Poroshenko dan mantan perdana menteri Yulia Tymoshenko. Berdasarkan hasil akhir yang diperbaharui, ia memperoleh 30,6 persen suara, sedangkan Poroshenko memperoleh 17,8 persen.

Poroshenko menyebut hasilnya sebagai sebuah pelajaran berat, terutama dari pemilih yang lebih muda. Ia pun meminta dukungan mereka nantinya di babak yang kedua.

"Anda melihat perubahan di negara ini, tetapi menginginkannya lebih cepat, lebih dalam, dan berkualitas lebih tinggi. Saya telah memahami motif di balik protes Anda," kata Poroshenko setelah hasil jajak pendapat keluar.

Tidak ada kandidat yang memperoleh lebih dari setengah suara, untuk itu pemilihan selanjutnya akan berlangsung pada 21 April. Dari 39 kandidat, kemungkinan tidak ada pemenang yang ingin memindahkan Ukraina kembali ke Rusia.

Para pejabat dan investor Barat menyatakan, mereka khawatir terkait ketidakpastian yang akan dibawa oleh kepresidenan Zelenskiy. Adapun warga Ukraina sudah cukup mengalami kelelahan yang diakibatkan perang selama lima tahun, dan korupsi yang terjadi. Masyarakat menginginkan pemimpin yang dapat mengatasi masalah yang terjadi.

"Masyarakat akan memilih pemula, atau mereka akan lebih berhati-hati. Mereka juga dapat menegaskan pilihannya, bahwa sebaiknya memilih yang sudah diketahui daripada seseorang yang sama sekali tidak dikenal," kata Ketua lembaga think tank Chatham House, Robert Brinkley.

Berdasarkan jajak pendapat Gallup yang diterbitkan pada Maret, hanya sembilan persen warga Ukraina yang memiliki kepercayaan pada Pemerintah. Kemudian hanya 12 persen orang dewasa Ukraina yang mempunyai kepercayaan terkait kejujuran dalam pemilu, sedangkan 91 persen percaya korupsi ada dalam pemerintahan.

"Tidak satu pun dari tiga kandidat yang cocok dengan saya. Dan kandidat lain tidak akan berhasil melewatinya. Karena itu kami secara umum ragu-ragu, haruskah kami pergi ke tempat pemungutan suara. Tapi tidak, Anda tetap harus pergi, tetapi memang hasilnya tidak dapat diprediksi," ucap warga Kiev, Yevheniya Shmelkova.

Sementara itu, pemerintah Barat memiliki banyak hal yang dipertaruhkan dalam pemilihan di Ukraina. Sebab, mereka memihak pada negara itu dalam konflik dengan Rusia, dan telah menginvestasikan sejumlah uang.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA