Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Hari Kemerdekaan Venezuela Diwarnai Unjuk Rasa Oposisi

Sabtu 06 Jul 2019 15:08 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido berbicara kepada pendukungnya saat unjuk rasa memperingati Hari Kemerdekaan Venezuela di Caracas, Venezuela, Jumat (5/7).

Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido berbicara kepada pendukungnya saat unjuk rasa memperingati Hari Kemerdekaan Venezuela di Caracas, Venezuela, Jumat (5/7).

Foto: AP Photos/Leonardo Fernandez
Venezuela memperingati hari jadi setiap 5 Juli.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Hari Kemerdekaan Venezuela diwarnai aksi unjuk rasa yang dipimpin pemimpin oposisi Juan Guaido, Jumat (5/7). Ia meminta para pendukung di jalan-jalan di Caracas untuk tidak menyerah.

"Jangan pergi! Kita akan sampai di sana! Jangan ragu, kita akan berhasil," kata dia dilansir dari Straits Times, Sabtu (6/7).

Kerumunan orang datang untuk mendengar Guaido, yang pada Januari menyatakan dirinya sebagai presiden sementara. Hal ini merupakan dalam sebuah tantangan langsung terhadap kekuasaan Presiden Nicholas Maduro

Negara itu sedang merayakan hari jadi pada 5 Juli untuk merayakan Deklarasi Kemerdekaan 1811. Sementara itu, Maduro memimpin parade militer menyusuri Paseo de los Proceres, sebuah boulevard yang menghormati para pendiri negara, dan menerima dukungan publik dari petinggi militer.

"Mengandalkan angkatan bersenjata, kita tidak takut menghadapi musuh negara," ucap komandan strategi operasional, Jenderal Remigio Ceballos meyakinkan presiden.

Kepala hak asasi PBB Michelle Bachelet menyampaikan laporan yang memberatkan tentang Venezuela. Ini tekait dengan serangan terhadap lawan politik dan aktivis, termasuk penyiksaan dan ribuan pembunuhan oleh pasukan keamanan di negara itu.

Dia mengatakan upaya untuk menggunakan hak-hak paling mendasar seperti kebebasan berpendapat, berekspresi, berserikat dan berkumpul di Venezuela memiliki risiko pembalasan dan penindasan. Namun dia kemudian menyambut pembebasan 22 tahanan dalam beberapa hari terakhir, termasuk jurnalis Braulio Jatar, dan seorang hakim Lourdes Afiuni.

Mahkamah Agung mengonfirmasi pembalikan langkah-langkah penahanan terhadap keduanya, meskipun mereka belum dibebaskan. Afiuni yang telah ditahan sejak 2009, menyatakan rasa terima kasihnya kepada Bachelet di Twitter. Ia mengatakan pembebasannya, jika sudah selesai, akan menjadi akhir dari sembilan tahun dan tujuh bulan penganiayaan dan penyiksaan.

Amerika Serikat (AS) bersama dengan sekitar 50 negara lain, termasuk kekuatan utama Amerika Latin, telah menyatakan Maduro tidak sah dan mengakui Guaido sebagai pemimpin sementara.

Baca Juga

Namun, Maduro telah menahan tekanan yang dipimpin AS yang mencakup sanksi terhadap ekspor minyak penting Venezuela. Maduro masih dapat menikmati dukungan dari Rusia, Cina dan Kuba.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA