Jumat 30 Aug 2019 09:45 WIB

Suburnya Tunas Ekstrem Kanan di Jerman

Saxony sudah menjadi basis massa untuk kelompok ekstrem kanan.

Angela Merkel
Foto: EPA-EFE/NDR/Wolfgang Borrs
Angela Merkel

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Lintar Satria

Ketika matahari mulai susut ke barat, banyak warga Kota Bautzen, Jerman, berduyun-duyun ke alun-alun pasar. Sebagian besar laki-laki tua kulit putih.

Beberapa orang di antaranya mengibarkan bendera Jerman. Mereka berpawai bersama pemimpin partai ekstrem kanan yang dikenal dengan Alternative for Germany (AfD).

Para pendukung partai itu berharap dapat meraih kemenangan besar dalam pemilihan daerah di dua negara bagian. Mereka menyalahkan Kanselir Angela Merkel dan koalisinya, Christian Democratic Union (CDU), atas kesengsaraan yang terjadi di daerah mereka.

"Kami butuh perubahan. Hanya orang-orang tua yang ditinggalkan di sini. Kami tidak memiliki dokter, perawat, guru, pedagang, dan juga anak muda. CDU merusak semuanya," kata pensiunan Volker Nowak yang ikut berpawai, Kamis (29/8).

Nowak salah satu di antara sekitar 500 orang yang melakukan pawai di alun-alun. Para pemilih di Negara Bagian Saxony mengancam akan memberikan pukulan telak kepada partai-partai besar dan mengganggu stabilitas koalisi nasional yang mengusung Merkel.

Bautzen salah satu kota dataran tinggi di Saxony. Kota itu berpenduduk 40 ribu orang dan bersebelahan dengan Brandenberg. Pemilihan daerah yang dilakukan beberapa pekan sebelum peringatan runtuhnya tembok Berlin 30 tahun lalu akan menyoroti masalah ekonomi dan sosial di Jerman timur.

Isu itu masih memecah belah Jerman setelah reunifikasi 29 tahun lalu. Wilayah-wilayah bekas kekuasaan Jerman timur yang komunis, terutama Saxony, menjadi basis suara yang kuat untuk AfD yang baru berusia 6 tahun.

Banyak masyarakat desa di Jerman timur merasa ditinggalkan pemerintah. Beberapa orang di antaranya tidak pernah bisa benar-benar pulih setelah kehilangan pekerjaan.

Janji untuk hidup setara antara Jerman timur dan barat tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Gaji pekerja di bagian timur Jerman masih lebih kecil dibandingkan di sebelah barat.

Sejak Jerman reunifikasi tahun 1990, CDU berkuasa di Saxony. Awalnya mereka berkuasa penuh, lalu berkoalisi. Dari waktu ke waktu jajak pendapat menunjukkan mereka hanya menang tipis dari AfD.

Dukungan terhadap CDU yang lima tahun lalu 39 persen turun menjadi 30 persen. Sementara itu, dukungan ke AfD naik sekitar 9,7 persen.

Baik CDU maupun Social Demokrat, yakni rekan Merkel di koalisi nasional yang moderat-kiri, tidak akan membentuk koalisi dengan AfD. Saxony sudah menjadi basis massa untuk kelompok ekstrem kanan.

Saxony juga tempat kelompok anti-imigran Patriotic Europeans Against the Islamization of the West (PEGIDA) cukup terkenal. Pada 2015 lalu puluhan ribu orang ikut dalam unjuk rasa mereka untuk memprotes krisis imigrasi.

"AfD menawarkan sesuatu yang tidak ada pada orang-orang di Saxony dan di timur secara umum; rasa saling memiliki dan rasa untuk memberontak," kata ilmuwan politik dari Institute for Advanced Stability Studies di Postdam, Johannes Staemmler.

Staemmler mengatakan, ada rasa kecewa yang sangat besar. AfD memasang poster kampanye yang mendesak pemilih untuk "melengkapi" pemberontakan terhadap komunis pada 1989. Mereka juga menyatakan bahwa Jerman timur sedang bangkit.

Angka pengangguran di Saxony sekitar 5,3 persen, sedangkan angka pengangguran nasional sebesar 5 persen. Kota-kota besar seperti Dresden dan Leipzig sudah direnovasi besar-besaran dan menarik banyak perusahaan.

Namun, belum banyak perubahan terjadi di desa-desa. Hal ini mengingatkan pada proses deindustrialisasi yang berakhir tiga dekade lalu ketika perusahaan warisan komunisme berhenti beroperasi.

Para pemilih berusia senja terkadang masih bernostalgia. Mereka memilih untuk mengingat-ingat masa lalu dan takut memikirkan masa depan, terutama adanya perlambatan ekonomi di Jerman dan seluruh Eropa. AfD pun memainkan ketakutan-ketakutan itu.

Ketua AfD di Saxony, Joerg Urban, berjanji kepada kerumunan di Bautzen akan membangun infrastruktur di desa-desa. Janji lainnya adalah memberikan akses internet cepat, memperbaiki jaringan telepon, membangun sekolah baru, dan menarik banyak dokter.

Urban mengatakan, partai ingin pemilihan daerah ini akan menjadi sinyal ke seluruh Jerman. AfD akan menjadi partai yang diterima sebagian besar masyarakat.

Ilmuwan politik dari Technical University of Dresden, Hans Vorlaender, mengatakan, perubahan seperti globalisasi dan digitalisasi memperlemah ikatan pemilih dengan partai-partai lama yang moderat. "Kami melihat bagaimana sistem partai lama yang memberikan stabilitas pada demokrasi telah runtuh di Italia atau Prancis," katanya.

Jerman belum dapat dibandingkan dengan dua negara itu. Namun, pola pemilih di timur dapat memberikan bayangan tentang apa yang akan terjadi di seluruh Jerman. n ap ed: yeyen rostiyani

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement