Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Sejarah Hari Ini: Martin Luther King Terima Nobel Perdamaian

Senin 14 Oct 2019 06:52 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Martin Luther King Jr

Martin Luther King Jr

Foto: AP
Martin Luther King Jr. menentang prasangka rasial di Amerika tanpa kekerasan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pada 14 Oktober 1964 pemimpin hak-hak sipil keturunan Afrika-Amerika Martin Luther King Jr., dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian karena perlawanan tanpa kekerasan terhadap prasangka rasial di Amerika. Pada usia 35 tahun, menteri kelahiran Georgia itu merupakan sosok termuda yang pernah menerima penghargaan.

Sebagai orator yang kuat, ia bersuara pada cita-cita Kristen dan Amerika sehingga memenangkan dukungan yang semakin besar dari pemerintah federal dan orang kulit putih utara. Pada 1963, ia memimpin gerakan Maret di Washington, di mana ia menyampaikan gagasan "I Have a Dream" yang terkenal.  

Dilansir History, pada 1964, gerakan hak-hak sipil Luther King Jr memiliki dua keberhasilan terbesarnya. Pertama, ratifikasi Amandemen ke-24 yang menghapuskan pajak pemungutan suara. Kedua, Undang-Undang Hak-Hak Sipil 1964 yang melarang diskriminasi ras dalam pekerjaan dan pendidikan serta melarang pemisahan ras di fasilitas publik.  

Dia menyumbangkan hadiah uang senilai 54.600 dolar AS kepada gerakan hak-hak sipil usai memenangkan nobel. Beberapa tahun sebelumnya, pada 1955 ia mengorganisir protes besar pertama dari gerakan hak-hak sipil: keberhasilan Boikot Bus Montgomery.

Martin Luther King, Jr., lahir di Atlanta pada 1929 dari seorang pendeta Baptis. Dia menerima gelar doktor dalam bidang teologi. Dirinya terinspirasi sosok Mohandas Gandhi yang menganjurkan pembangkangan sipil tanpa kekerasan terhadap segregasi rasial.

Protes damai yang dipimpinnya di seluruh Amerika Selatan kala itu sering kali disertai dengan kekerasan, meski Luther King dan para pengikutnya tetap bertahan sehingga gerakan tanpa kekerasan mereka mendapatkan momentumnya sendiri.

Pada akhir 1960-an, King secara terbuka mengkritik keterlibatan Amerika Serikat (AS) di Vietnam dan mengalihkan upayanya untuk memenangkan hak ekonomi bagi orang Amerika miskin. Pada saat itu, gerakan hak-hak sipil sudah mulai retak. Para aktivis seperti Stokely Carmichael menolak visi King tentang integrasi tanpa kekerasan yang mendukung kemandirian dan pertahanan diri orang Afrika-Amerika.  

Pada 1968, King berniat menghidupkan kembali gerakannya melalui sebuah ras "Poor People's March" di Washington. Namun, nahas pada 4 April 1968 ia dibunuh di Memphis, Tennessee oleh narapidana kulit putih yang melarikan diri, James Earl Ray. Kematiannya hanya beberapa minggu sebelum demonstrasi dijadwalkan mulai.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA