REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin menyalahkan Barat atas meningkatnya ketegangan di Eropa, Selasa (21/12). Berbicara kepada pejabat militer senior, Putin mengatakan, Rusia akan menanggapi secara memadai setiap agresi Barat dan akan mengembangkan pasukannya lebih jauh.
"Mengapa mereka memperluas NATO dan meninggalkan perjanjian pertahanan rudal? Mereka yang harus disalahkan atas apa yang terjadi sekarang, atas ketegangan yang meningkat di Eropa," kata Putin.
Menurut Putin, penilaian Washington telah diselimuti oleh euforia yang mengarah pada pilihan kebijakan yang buruk usai berakhirnya Perang Dingin. Putin mengharapkan pembicaraan konstruktif dengan Washington dan Brussels tentang tuntutan Moskow untuk jaminan keamanan karena ada tanda-tanda Barat siap untuk menangani masalah terbaru, yaitu penempatan pasukan.
Rusia telah mengumpulkan puluhan ribu tentara di perbatasan dengan Ukraina. Rusia menuntut agar NATO menolak untuk menerima bekas republik Soviet itu sebagai anggota dan menjamin bahwa tidak ada senjata atau pasukan yang akan dikerahkan di sana.
Putin mengatakan proposal Rusia bukanlah ultimatum, tetapi tidak ada tempat untuk mundur atas Ukraina. "Konflik bersenjata dan pertumpahan darah sama sekali bukan sesuatu yang akan kami pilih, kami tidak menginginkan skenario seperti itu," kata Putin.
Berbicara pada pertemuan yang sama, Menteri Pertahanan Sergei Shoigu mengatakan Amerika Serikat (AS) telah mengerahkan sekitar 8.000 tentara di dekat perbatasan Rusia. AS bersama sekutu NATO sering melakukan penerbangan dengan pesawat pembom strategis yang dekat dengan Rusia.
Shoigu menyatakan, upaya NATO untuk melibatkan tentara Ukraina dalam kegiatan aliansi menghadirkan ancaman keamanan. Sebelumnya diplomat senior Rusia mengatakan kontak telah dimulai antara negara itu dan ASmengenai masalah jaminan keamanan yang dicari Rusia,dan ada kemungkinan bahwa kedua pihak akan mencapai kesepahaman.