Senin 11 Apr 2022 16:29 WIB

Macron Pimpin Perolehan Suara Sementara Pilpres Prancis

Macron bersaing dengan tokoh sayap kanan Marine Le Pen

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha
Seorang pria berjalan melewati poster kampanye presiden dari Presiden Prancis dan kandidat tengah untuk pemilihan kembali Emmanuel Macron dan kandidat presiden sayap kanan Prancis Marine Le Pen di Anglet, barat daya Prancis, Rabu, 8 April 2022.
Foto: AP Photo/Bob Edme
Seorang pria berjalan melewati poster kampanye presiden dari Presiden Prancis dan kandidat tengah untuk pemilihan kembali Emmanuel Macron dan kandidat presiden sayap kanan Prancis Marine Le Pen di Anglet, barat daya Prancis, Rabu, 8 April 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Calon presiden (capres) Prancis petahana, Emmanuel Macron, memimpin perolehan suara sementara dalam putaran pertama pemilihan presiden (pilpres) di negaranya. Dia ditempel tokoh sayap kanan dari partai National Rally, Marine Le Pen. 

 Dilaporkan laman France24, sekitar 48,7 juta warga Prancis berpartisipasi dalam pilpres Prancis putaran pertama yang digelar Ahad (10/4). Hingga pukul 17:00 waktu setempat, 65 persen dari pemilih terdaftar telah memberikan suaranya. Angka itu turun 4,4 poin jika dibandingkan dengan pilpres 2017.

Baca Juga

Terdapat 12 capres yang berkontestasi dalam pilpres Prancis putaran pertama. Menurut penghitungan exit poll yang dilakukan Ipsos Sopra Steria, saat ini Macron masih memimpin perolehan suara dengan angka 27,6 persen. Pesaing Macron dalam pilpres 2017, Marine Le Pen, menyusul di urutan kedua dengan 23 persen suara.

Kandidat sayap kiri Jean-Luc Mélenchon menduduki posisi ketiga dengan 22,2 persen suara. Sementara sisa capres lainnya hanya memperoleh satu digit persentase suara. Macron dan Le Pen diprediksi akan mengulang persaingan mereka pada 2017. Putaran final pilpres Prancis dijadwalkan digelar pada 24 April mendatang.

Meski Macron masih lebih unggul, sejumlah analis politik tetap meyakini akan ada persaingan ketat antara presiden petahana dengan Le Pen. Pada 2017, Macron terpilih menjadi presiden termuda Prancis setelah mengalahkan Le Pen. Macron meraih 66,1 persen suara, sementara Le Pen 33,9 persen. 

Namun setelah lima tahun masa pemerintahan Macron yang membuat kaum konservatif arus utama Prancis compang-camping dan kaum kiri jengkel, para pengamat menilai, front Partai Republik akan sulit membawa Macron ke periode jabatan presiden kedua. 

Le Pen dikenal sebagai tokok anti-imigran. Menjelang perhelatan pilpres, dia berjanji akan mengatur arus imigran jika memimpin Prancis. Sementara Macron cukup telat melakukan kampanye. Dia hanya menggelar satu kampanye besar. Salah satu fokus yang diusung Macron jika dirinya terpilih kembali adalah menaikkan usia pensiun. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement