Jumat 15 Jul 2022 13:27 WIB

Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa Akhirnya Mundur

Pengunduran diri dilakukan setelah Gotabaya Rajapaksa melarikan diri ke Singapura

Rep: Fergi Nadira/ Red: Esthi Maharani
Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa akhirnya mundur dari jabatan presiden seusai parlemen menerima surat pengunduran dirinya Jumat (15/7/2022).
Foto: AP/Eranga Jayawardena
Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa akhirnya mundur dari jabatan presiden seusai parlemen menerima surat pengunduran dirinya Jumat (15/7/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, KOLOMBO - Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa akhirnya mundur dari jabatan presiden seusai parlemen menerima surat pengunduran dirinya Jumat (15/7/2022). Pengunduran diri ini dilakukan setelah ia melarikan diri ke Singapura untuk menghindari pemberontakan rakyat yang disebabkan oleh krisis ekonomi terburuk negaranya dalam tujuh dekade.

"Dari titik ini, kami akan bergerak untuk menunjuk presiden baru secara konstitusional," kata ketua parlemen Mahinda Yapa Abeywardena. "Itu akan terjadi dengan cepat dan sukses. Saya meminta semua orang untuk mendukung proses ini," imbuhnya.

Baca Juga

Rajapaksa mendarat di Singapura pada Kamis (15/7/2022) setelah melarikan diri ke Maladewa pada Rabu pagi dengan jet militer bersama istri dan dua penjaga keamanan. Para pengunjuk rasa menyerbu kediaman dan kantornya Sabtu lalu.

"Kami sangat senang hari ini dia mengundurkan diri dan kami merasa bahwa ketika kami, orang-orang, berkumpul, kami dapat melakukan segalanya," kata warga yang ikut aksi protes Arunanandan (34 tahun).

Ia adalah seorang guru sekolah yang berkemah di lokasi protes utama di seberang sekretariat presiden untuk tiga bulan terakhir. "Kami adalah kekuatan nyata di negara ini," katanya.

Berita pengunduran diri Rajapaksa, pertama kali dikirim melalui e-mail ke ketua parlemen sebelum hard copy dikirimkan. Berita ini memicu kegembiraan di kota utama Sri Lanka, Kolombo, Kamis malam.

Kerumunan menyalakan petasan, meneriakkan slogan-slogan dan menari dengan gembira di lokasi protes Gota Go Gama, yang dinamai dengan mengejek nama depan Rajapaksa. Ketua Abeywardena mengatakan dia berharap untuk menyelesaikan proses pemilihan presiden baru dalam tujuh hari dan parlemen akan berkumpul kembali pad Sabtu.

"Agenda pertemuan akhir pekan akan diputuskan pada Jumat, dan pemungutan suara untuk presiden berikutnya di parlemen dijadwalkan pada 20 Juli," katanya.

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe akan bertindak sebagai presiden sementara. Ia juga merupakan pilihan pertama dari partai yang berkuasa untuk mengambil alih penuh, meskipun belum ada keputusan yang diambil. Calon oposisi adalah Sajith Premadasa, sedangkan oposisi lain adalah anggota parlemen senior Dullas Alahapperuma.

Aksi protes terhadap krisis ekonomi Sri Lanka telah membara selama berbulan-bulan dan memuncak akhir pekan lalu ketika ratusan ribu orang mengambil alih gedung-gedung pemerintah di Kolombo. Para pengunjuk rasa menyalahkan keluarga Rajapaksa dan sekutunya atas inflasi yang tak terkendali, kekurangan barang-barang pokok, dan korupsi.

Antrian mengular di luar pompa bahan bakar telah menjadi hal biasa, sementara pemerintah telah menutup sekolah dan memberlakukan kerja dari rumah bagi pekerja kantoran untuk menghemat bahan bakar. Negara berpenduduk 22 juta itu hampir kehabisan dolar untuk impor dan gagal membayar pinjaman luar negeri.

Inflasi utama mencapai 54,6 persen bulan lalu dan bank sentral telah memperingatkan bahwa itu bisa naik menjadi 70 persen dalam beberapa bulan mendatang. Sri Lanka telah memulai diskusi awal dengan Dana Moneter Internasional tentang pinjaman bailout potensial, tetapi ini telah terganggu oleh kekacauan pemerintah terbaru.

Juru bicara IMF Gerry Rice mengatakan kepada wartawan pada Kamis bahwa staf IMF masih berhubungan dengan pejabat pemerintah tingkat teknis. Namun berharap untuk melanjutkan dialog tingkat tinggi sesegera mungkin.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement