Selasa 27 Dec 2022 12:11 WIB

Kelompok LSM Asing Kelima Tangguhkan Operasional di Afghanistan

Christian Aid jadi LSM kelima yang menangguhkan operasi di Afganistan

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Organisasi nonpemerintah (LSM) Christian Aid pada Senin (26/12/2022) menjadi kelompok bantuan asing kelima yang menangguhkan operasi di Afghanistan.
Foto: EPA-EFE/JALIL REZAYEE
Organisasi nonpemerintah (LSM) Christian Aid pada Senin (26/12/2022) menjadi kelompok bantuan asing kelima yang menangguhkan operasi di Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Organisasi nonpemerintah (LSM) Christian Aid pada Senin (26/12/2022) menjadi kelompok bantuan asing kelima yang menangguhkan operasi di Afghanistan. Langkah ini diambil setelah Taliban memerintahkan semua LSM asing untuk memecat staf perempuan.

"Kami dengan cepat mencari kejelasan tentang pengumuman ini dan mendesak pihak berwenang untuk membatalkan larangan tersebut. Sementara kami melakukan ini, sayangnya kami menghentikan pekerjaan program kami," ujar kepala program global Christian Aid, Ray Hasan, dilaporkan Al Arabiya, Senin (26/12/2022)

Sebelumnya pada Ahad (25/12), tiga LSM asing yaitu Save the Children, The Norwegian Refugee Council dan CARE mengumumkan penangguhan operasional mereka di Afghanistan. Kemudian, The International Rescue Committe juga menyatakan penangguhan operasionalnya di negara tersebut. Lembaga ini memberikan tanggap darurat di bidang kesehatan dan pendidikan, serta mempekerjakan 3.000 wanita di seluruh Afghanistan.

 “Jutaan orang di Afghanistan berada di ambang kelaparan. Laporan bahwa keluarga sangat putus asa sehingga mereka terpaksa menjual anak-anak mereka untuk membeli makanan benar-benar memilukan,” kata Hasan.

Hasan menambahkan, larangan mempekerjakan staf perempuan di LSM akan membatasi kemampuan organisasi untuk membantu banyak orang yang membutuhkan.  Pada Sabtu (24/12) Kementerian Ekonomi Afghanistan di bawah Taliban mengumumkan, larangan staf perempuan bekerja di LSM asing. Kementerian Ekonomi mengatakan, mereka telah menerima "keluhan serius" bahwa perempuan yang bekerja di LSM tidak mematuhi aturan berpakaian Islami. Taliban mengancam akan menangguhkan izin operasi LSM asing jika mereka gagal melaksanakan perintah tersebut.

Larangan itu berlangsung pada saat jutaan orang di seluruh Afghanistan bergantung pada bantuan kemanusiaan yang diberikan oleh donor internasional melalui jaringan LSM. Krisis ekonomi Afghanistan semakin memburuk sejak Taliban merebut kekuasaan pada Agustus tahun lalu. Hal ini menyebabkan Washington membekukan aset Afghanistan senilai miliaran dolar, dan donor asing menghentikan bantuan.

Kementerian Ekonomi mengatakan, perempuan yang bekerja di LSM tidak mematuhi aturan penggunaan jilbab serta aturan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan perempuan di organisasi nasional dan internasional. Masih belum diketahui apakah arahan tersebut berdampak pada staf perempuan asing di LSM.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement