Rabu 15 Feb 2023 20:11 WIB

Bahas Kebutuhan Bantuan, Menlu Yordania akan Kunjungi Turki dan Suriah

Menlu Yordania akan membahas kebutuhan Turki dan Suriah pascagempa

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi diagendakan mengunjungi Turki dan Suriah, Rabu (15/2/2023). Kunjungannya bertujuan menunjukkan solidaritas setelah kedua negara tersebut diguncang gempa mematikan yang telah merenggut lebih dari 40 ribu korban jiwa.
Foto: AP/Francois Mori
Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi diagendakan mengunjungi Turki dan Suriah, Rabu (15/2/2023). Kunjungannya bertujuan menunjukkan solidaritas setelah kedua negara tersebut diguncang gempa mematikan yang telah merenggut lebih dari 40 ribu korban jiwa.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN – Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi diagendakan mengunjungi Turki dan Suriah, Rabu (15/2/2023). Kunjungannya bertujuan menunjukkan solidaritas setelah kedua negara tersebut diguncang gempa mematikan yang telah merenggut lebih dari 40 ribu korban jiwa.

“Safadi akan membahas kebutuhan kemanusiaan dan bantuan yang dibutuhkan kedua negara,” kata Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Yordania dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa negara tersebut akan menerbangkan bantuan tambahan untuk Ankara dan Damaskus.

Yordania telah menyalurkan bantuan pasca gempa dalam jumlah besar ke Turki dan Suriah. Amman mengirimkan rumah sakit lapangan ke Turki dan mengorganisir beberapa konvoi bantuan besar melalui perbatasan utara negara itu dengan Suriah.

Kunjungan Ayman Safadi ke Damaskus akan menjadi lawatan pertama yang dilakukan pejabat tinggi Yordania sejak Suriah didera konflik sipil pada 2011. Dalam konflik di Suriah, Yordania diketahui mendukung kelompok-kelompok oposisi arus utama yang berusaha melengserkan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad. Namun Amman kemudian mendukung kampanye militer Rusia yang membantu pasukan Pemerintah Suriah merebut kendali wilayah-wilayah dari kelompok oposisi bersenjata.

Pada Senin (13/2/2023) lalu Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut keputusan Pemerintah Suriah membuka dua titik penyeberangan baru di perbatasan Turki untuk keperluan pengiriman bantuan kemanusiaan bagi korban gempa di negara yang sudah 12 tahun dibekap konflik sipil tersebut. Sebelumnya, Suriah hanya membuka satu pos penyeberangan, yakni Bab al-Hawa.

“Saya menyambut keputusan hari ini oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk membuka dua titik penyeberangan Bab Al-Salam dan Al Ra’ee dari Turki ke Suriah barat laut untuk periode awal tiga bulan guna memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan yang tepat waktu,” kata Guterres, dikutip laman UN News.

Menurut Guterres, penyaluran bantuan kemanusiaan bagi korban gempa di Suriah bersifat sangat mendesak. “Membuka titik-titik penyeberangan ini, bersama dengan memfasilitasi akses kemanusiaan, mempercepat persetujuan visa dan memudahkan perjalanan antar-hub,” ucapnya.

Kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan, Harim, Afrin, dan Jebel Saman menjadi distrik yang paling parah terdampak gempa di Suriah. Lebih dari 50 truk berisi bantuan kemanusiaan dari lima badan PBB telah melintasi satu-satunya penyeberangan internasional di Bab al-Hawa.

Juru bicara Antonio Guterres, Stephane Dujarric mengatakan, PBB terus memobilisasi tim darurat dan operasi bantuan. Dia menjelaskan, atas permintaan Turki, tim dari UN Disaster Assessment and Coordination (UNDAC) beranggotakan 50 orang telah diterjunkan ke daerah pusat gempa Turki, yakni Gaziantep dan tiga wilayah terdampak lainnya. Mereka akan mendukung pekerjaan the International Urban Search and Rescue Operations.

Tim penghubung UNDAC untuk Kementerian Manajemen Bencana dan Darurat Turki, yang memimpin respons, juga telah dibentuk di Ankara. “Kami melihat area kerusakan seluas lebih dari 50 ribu  kilometer persegi, mencakup rentang sepuluh provinsi. Kami menghitung sekarang, 6.000 gedung bertingkat tinggi telah runtuh,” ujar perwakilan UNDAC, Winston Chang.

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement