Senin 27 Feb 2023 14:44 WIB

Setahun Perang, Ekonomi Ukraina Mulai Stabil

Banyak bisnis di Ukraina menemukan cara untuk mengatasi perang.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
 Pemandangan umum bangunan yang hancur di kota Chernihiv, Ukraina, 03 April 2022 (dikeluarkan 04 April 2022). Pasukan Rusia memasuki Ukraina pada 24 Februari yang mengakibatkan pertempuran dan kehancuran di negara itu, dan memicu serangkaian sanksi ekonomi yang berat terhadap Rusia oleh negara-negara Barat.
Foto: EPA-EFE/NATALIIA DUBROVSKA
Pemandangan umum bangunan yang hancur di kota Chernihiv, Ukraina, 03 April 2022 (dikeluarkan 04 April 2022). Pasukan Rusia memasuki Ukraina pada 24 Februari yang mengakibatkan pertempuran dan kehancuran di negara itu, dan memicu serangkaian sanksi ekonomi yang berat terhadap Rusia oleh negara-negara Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Ketika Rusia menginvasi Ukraina setahun yang lalu, rak-rak jaringan supermarket Novus di Kiev dengan cepat kosong karena rantai pasokannya dari dalam dan luar negeri terhenti. Produk segar menjadi langka dan panic buying menyebar ke seluruh negeri.

Wakil Direktur Operasional Novus, Oleksiy Panasenko, mengenang bagaimana bisnis mengalami kesulitan seperti banyak rantai ritel besar lainnya. Namun, supermarket Novus berhasil beradaptasi. Panasenko mengatakan, perusahaan kehilangan sekitar 30 persen dari jam pada Desember dan sekitar 20 persen pada Januari. Panasenko mengatakan, 52 dari 82 toko Novus sudah dilengkapi dengan generator.

Baca Juga

"Pada hari kedua (perang), sudah terjadi pertempuran di pinggiran Kiev. Pada Februari dan Maret, toko kami menjadi lebih dari sekadar tempat untuk membeli makanan. Ini menjadi tempat untuk bertemu, berkomunikasi, yang disebut pulau stabilitas," ujar Panasenko.

Ketika pasukan Ukraina memaksa tentara Rusia mundur dari ibu kota pada musim semi, sektor ritel dan ekonomi yang lebih luas bangkit kembali. Data dari Asosiasi Bisnis Eropa Ukraina, yang mengelompokkan lebih dari 1.000 bisnis asing dan Ukraina, menunjukkan bahwa pada akhir Mei, sebanyak 47 persen anggota mereka telah memulihkan operasi sepenuhnya. Sementara 50 persen lainnya bekerja dengan beberapa keterbatasan.

Namun, kemudian serangan rudal muncul pada Oktober, dan memberikan pukulan telak bagi Ukraina. Rusia menyerang jaringan listrik dan substasiun di seluruh negeri, menyebabkan pemadaman selama musim dingin yang membekukan dan memukul keras industri berat. Tahun lalu, sepertiga perekonomian menyusut. Ini merupakan penurunan terbesar sejak kemerdekaan Ukraina dari Uni Soviet pada 1991. Sebelum invasi Rusia, ekonomi tahunan Ukraina mencapai 200 miliar dolar AS.

Saat perang memasuki tahun kedua tantangannya sangat berat. Sementara, banyak bisnis menemukan cara untuk mengatasi perang. Pabrik baja terbesar di Ukraina, ArcelorMittal Kryvyi Rih, mengatakan, produksinya saat ini sekitar 25 persen dari tingkat sebelum perang di tengah pemadaman listrik.

"Kami melihat usaha kecil dan menengah beradaptasi cukup cepat terhadap kekurangan listrik dengan membeli generator, baterai dan peralatan lainnya, sementara kerusakan infrastruktur tetap moderat," kata kepala ekonom di rumah investasi Dragon Capital, Olena Bilan.

"Jika situasi ini terus berlanjut, penurunan PDB pada 2023 tidak akan signifikan seperti yang kami harapkan. Tetapi, perkiraan kami juga memperkirakan berakhirnya fase panas perang pada akhir kuartal ketiga 2023," kata Bilan.  

Bank sentral Ukraina memperkirakan PDB akan tumbuh sebesar 0,3 persen tahun ini. Sementara Kementerian Ekonomi memperkirakan pertumbuhan 3,2 persen. Pada musim panas lalu, pejabat Ukraina percaya diri bahwa perekonomian negara akan meningkat, khususnya setelah ada kesepakatan ekspor biji-bijian yang ditengahi PBB.

Perjanjian tersebut menyelamatkan pertanian Ukraina, yang menyumbang sekitar 12 persen dari PDB dan sekitar 40 persen dari keseluruhan ekspor sebelum perang. Pada pertengahan Februari, ekspor biji-bijian Ukraina untuk musim 2022-2023 yang berlangsung Juli hingga Juni telah turun 29,3 persen year on year menjadi 29,7 juta ton.

Kepala penelitian di rumah investasi ICU, Vitaly Vavrishchuk, peningkatan besar-besaran dalam pengeluaran militer, termasuk gaji tentara, juga memberikan dorongan bagi perekonomian. Ukraina menghabiskan 1,5 triliun hryvnias atau 40,6 miliar dolar AS untuk sektor pertahanan pada 2022 atau setara dengan sekitar sepertiga dari hasil ekonominya. Menurut Dewan Keamanan Nasional, pengeluaran itu sekitar lima kali lebih tinggi dari anggaran pertahanan sebelum perang.

Puluhan miliar dolar bantuan asing telah mengalir ke Ukraina untuk membantu menutup defisit anggaran maupun mempersenjatai pasukan Ukraina. Namun, terlepas dari hal-hal positifnya, ekonomi Ukraina jauh tertinggal sebelum perang dimulai.  

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement