Sabtu 25 Feb 2023 17:35 WIB

Tank Leopard Milik Polandia Tiba di Ukraina

Sekutu barat Ukraina mengumumkan serangkaian sanksi untuk Rusia.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
File foto tentara Polandia dengan tank Leopard 2 buatan Jerman maju di tempat latihan Militer Biedrusko di Biedrusko, Polandia Barat, 24 Maret 2014 (diterbitkan ulang 23 Januari 2023). Tank Leopard milik Polandia pertama telah tiba di Ukraina pada Jumat (24/2/2023).
Foto: EPA-EFE/JAKUB KACZMARCZYK
File foto tentara Polandia dengan tank Leopard 2 buatan Jerman maju di tempat latihan Militer Biedrusko di Biedrusko, Polandia Barat, 24 Maret 2014 (diterbitkan ulang 23 Januari 2023). Tank Leopard milik Polandia pertama telah tiba di Ukraina pada Jumat (24/2/2023).

REPUBLIKA.CO.ID,KIEV -- Tank Leopard milik Polandia pertama telah tiba di Ukraina. Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki membenarkan bahwa empat tank Leopard telah dikirim ke Ukraina.

"Polandia dan Eropa mendukung Anda. Kami pasti tidak akan meninggalkan Anda, kami akan mendukung Ukraina sampai kemenangan penuh atas Rusia,” ujar Morawiecki saat melakukan kunjungan ke Kiev. 

Baca Juga

Dilansir The Guardian, Pengumuman terbaru tersebut bersamaan dengan peringatan setahun invasi Rusia ke Ukraina pada Jumat (24/2/2023). Dalam kesempatan ini sekutu Barat pun berusaha menunjukkan dukungannya.

Warna biru dan kuning Ukraina diproyeksikan di Menara Eiffel, Gerbang Brandenburg, Gedung Empire State, dan markas Uni Eropa. Bahkan warna-warna tersebut juga dilukis di jalan oleh para aktivis di luar Kedutaan Besar Rusia di London.

Selain itu, sekutu barat termasuk G7 dan Uni Eropa mengumumkan serangkaian sanksi ekonomi, militer, dan keuangan lebih lanjut terhadap Rusia. 

G-7 mengumumkan tekadnya untuk memperkuat sanksi dan mengambil tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melemahkan Rusia. Mereka menjanjikan tindakan terhadap ekspor berlian Rusia yang merupakan masalah kontroversial bagi Eropa. 

Dalam peringatan terbaru, negara ketiga yang membantu Rusia menghindari sanksi akan menghadapi 'biaya yang besar'. Kelompok itu juga sedang menyiapkan 'mekanisme koordinasi penegakan' untuk menghentikan penghindaran sanksi yang telah diberlakukan.

"Kami menyerukan kepada negara ketiga atau aktor internasional lainnya yang berusaha menghindari atau merusak tindakan kami untuk berhenti memberikan dukungan material untuk perang Rusia, atau menghadapi kerugian besar," ujar pernyataan bersama para pemimpin G7 pada Jumat (24/2/2023). 

Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, sanksi yang telah diberikan berhasil. “Rusia jatuh ke belakang menuju ekonomi autarkik yang terputus dari dunia. Sanksi kami mengikis basis ekonominya dengan tajam, memangkas prospek untuk memodernisasikannya,” katanya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement