Kamis 09 Mar 2023 12:48 WIB

Belanda akan Batasi Ekspor Teknologi Semikonduktor ke Cina

Dengan langkah ini Belanda bergabung dengan upaya AS menahan ekspor cip Cina.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Produk cip Cina (ilustrasi). Pemerintah Belanda mengatakan berencana membatasi ekspor teknologi semikonduktor untuk melindungi keamanan nasionalnya. Dengan langkah ini Den Haag bergabung dengan upaya Washington menahan ekspor cip Cina.
Foto: Pixabay
Produk cip Cina (ilustrasi). Pemerintah Belanda mengatakan berencana membatasi ekspor teknologi semikonduktor untuk melindungi keamanan nasionalnya. Dengan langkah ini Den Haag bergabung dengan upaya Washington menahan ekspor cip Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, DEN HAAG -- Pemerintah Belanda berencana membatasi ekspor teknologi semikonduktor untuk melindungi keamanan nasionalnya. Dengan langkah ini, Den Haag bergabung dengan upaya Washington menahan ekspor cip Cina.

Pengumuman ini langkah konkret pertama Belanda dalam mengadopsi peraturan yang didorong AS untuk menahan industri cip dan memperlambat kemajuan teknologi Cina. Pada Oktober lalu AS memberlakukan larangan ekspor alat produksi cip ke Cina.

Baca Juga

Namun langkah ini hanya bisa efektif bila pemasok kunci lainnya dari Belanda dan Jepang yang juga memproduksi teknologi pembuatan cip juga sepakat. Negara-negara sekutu sudah membahas masalah ini selama berbulan-bulan.

Menteri Perdagangan Belanda Liesje Schreinemacher mengumumkan keputusan ini dalam suratnya ke parlemen. Ia mengatakan, pembatasan akan disosialisasikan sebelum musim panas.

Ia tidak menyebut Cina yang merupakan mitra dagang penting Belanda, dalam suratnya. Schreinemacher juga tidak menyinggung ASML Holding NV, perusahaan teknologi terbesar Eropa dan pemasok besar pabrik-pabrik semikonduktor.

Ia hanya merujuk satu teknologi yang akan terdampak yaitu adalah sistem litografi "DUV". Mesin paling canggih kedua yang ASML jual ke pabrik-pabrik cip komputer.

"Atas pertimbangan keamanan nasional Belanda perlu mengawasi teknologi ini secepatnya, Kabinet akan memperkenalkan daftar pengendalian nasional," kata Schreinemacher, dalam suratnya, Rabu (8/3/2023). Perwakilan Gedung Putih belum menanggapi permintaan komentar.

Dalam tanggapannya ASML mengatakan mereka sudah memperkirakan mengajukan izin untuk ekspor segmen tercanggihnya termasuk mesin DUV. Tapi hal itu tidak akan berdampak pada pedoman keuangan tahun 2023.

ASLM mendominasi pasar sistem litografi, mesin senilai jutaan dolar itu menggunakan laser kuat untuk memproduksi sirkuit cip komputer dalam hitungan menit.

Perusahaan itu memperkirakan penjualan ke Cina tetap 2,2 miliar euro pada tahun 2023. Hal ini mengisyaratkan penyusutan relatif sebab ASML mengharapkan penjualannya tumbuh 25 persen. Konsumen besar ASML seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing CO dan Intel Corp terlibat dalam ekspansi kapasitas perusahaan itu.

ASML tidak pernah menjual teknologi tercanggihnya, mesin "EUV" ke konsumen di Cina. Penjualan DUV ke Cina juga dilakukan dengan pabrik yang tidak terlalu canggih. Konsumennya terbesar di Korea Selatan, Samsung and SK Hynix memiliki kapasitas pabrik yang besar di Cina.  

Pengumuman Belanda masih menyisakan pertanyaan, salah satunya apakah ASML masih bisa melayani konsumen Cina yang telah membeli DUV sejak tahun 2014. Nilai penjualan ke Cina mencapai lebih dari 8 miliar euro.

Schreinemacher mengatakan keputusan ini diambil pemerintah Belanda dengan "sangat hati-hati dan setepat mungkin, untuk menghindari gangguan yang tidak diperlukan pada rantai pasokan."

"Penting untuk perusahaan-perusahaan ketahui apa yang sedang mereka hadapi dan mereka memiliki waktu untuk menyesuaikan peraturan yang baru," katanya.

Jepagn diperkirakan akan mengumumkan peraturan baru mengenai ekspor perangkat cip pada pekan ini.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement