Kamis 06 Jul 2023 08:06 WIB

Mantan PM Israel Sebut Anak-Anak Jenin yang Dibunuh Pasukan Israel adalah Teroris

Operasi militer Israel di Jenin telah membunuh empat anak-anak dibawah 18 tahun.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Ratusan pelayat Palestina bergabung dalam prosesi pemakaman 13 warga Palestina yang tewas dalam serangan tentara Israel di kota Jenin, Tepi Barat, 05 Juli 2023.
Foto: EPA-EFE/ALAA BADARNEH
Ratusan pelayat Palestina bergabung dalam prosesi pemakaman 13 warga Palestina yang tewas dalam serangan tentara Israel di kota Jenin, Tepi Barat, 05 Juli 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Dalam sebuah wawancara, penyiar BBC Anjana Gadgil menyoroti tentang serangan militer Israel baru-baru ini di kota Jenin, Tepi Barat. Dia menyatakan dalam wawancara dengan mantan perdana menteri Israel Naftali Bennett, operasi militer itu telah membunuh empat anak-anak dibawah umur 18 tahun.

"Militer Israel menyebut ini sebagai 'operasi militer', tetapi kita sekarang tahu bahwa anak muda dibunuh, empat di antaranya berusia di bawah delapan belas tahun. Apakah itu yang benar-benar ingin dilakukan oleh militer? Untuk membunuh orang berusia antara 16 antra 18 tahun?" ujar pembawa acara tersebut dalam siaran yang dibagikan oleh Bennett di akun Youtube pada Rabu (5/7/2023).

Baca Juga

Tapi, Bennett berpendapat bahwa 11 orang yang terbunuh di Jenin adalah "milisi". "Fakta bahwa ada teroris muda yang memutuskan untuk mengangkat senjata adalah tanggung jawab mereka," ujarnya.

Bennett justru mengklaim bahwa milisi yang dikirim dari kamp pengungsi Jenin alam beberapa tahun telah membunuh 50 warga Israel dalam beberapa kasus. Jenin dinilai sebagai pusat dari teror, sehingga pasukan Israel harus masuk ke sana dan menetralkan wilayah tersebut.

Menurut Bennett, semua yang mati dalam operasi tersebut adalah teroris. "Teroris, tapi anak-anak," ujar pembawa acara BBC menanggapi pernyataan Bennett tersebut.

Kemudian Gadgil menyatakan "Pasukan Israel dengan senang hati membunuh anak-anak." Namun, Bennett langsung menyangkal pernyataan tersebut dengan menyatakan para anak-anak itu membunuh warga Israel.

Baca Juga: UEA Jadi Negara Pertama yang Sumbang Dana ke Jenin

Bennett pun membuat pengandaian dengan menyatakan, jika ada anak Palestina berusia 17 tahun membunuh keluarga Gadgil dan memaksa tanggapannya. "Bagaimana kamu menyebut orang berusia 17 tahun dengan senjata menembak dan keluargamu?," ujarnya.

Gadgil menegaskan, pembicaraan itu tidak membahas tentang pegadaian tersebut. Dia pun menegaskan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut para korban tersebut adalah anak-anak, walau Israel mencap mereka adalah teroris.

"PBB mendefinisikan mereka adalah anak-anak, kita tahun terdapat empat orang berusia antara 16 hingga 18 tahun dalam penyerangan yang ditargetkan, jangan lupakan, ini penyerangan yang ditargetkan," ujar Gadgil.

Bennett pun bersikeras mereka  memiliki dasar pengertian yang berbeda karena mereka menargetkan warga sipil, sedangkan militer menargetkan teroris. Dia menilai lawan bicaranya justru melontarkan pernyataan yang tidak bisa diterima.

"Ini sangat bertolak belakang, kami melakukan hal yang benar, mereka membunuh warga sipil," kata mantan perdana menteri Israel itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement