Selasa 29 Aug 2023 05:00 WIB

Deretan Negara Eropa yang Melarang Atribut Islam

Negara-negara di Eropa telah bergulat dengan isu jilbab, termasuk burka dan niqab.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Muslimah Prancis.
Foto: onislam.net
Muslimah Prancis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Negara-negara di Eropa telah bergulat dengan isu jilbab, termasuk burka dan niqab. Mereka berdebat tentang kebebasan beragama, kesetaraan perempuan, tradisi sekuler, dan bahkan ketakutan dengan terorisme.

Berikut adalah daftar negara Eropa yang melarang penggunaan atribut Islam, dilansir BBC:

Baca Juga

Jerman

Pada 6 Desember 2016, Kanselir Angela Merkel mengatakan penggunaan cadar harus dilarang di Jerman. Komentarnya disampaikan pada pertemuan partai CDU. Keputusan ini muncul setelah rencana pelarangan burka atau cadar di gedung-gedung publik diusulkan oleh Menteri Dalam Negeri, Thomas de Maiziere pada Agustus 2016.

Belum ada undang-undang nasional yang membatasi pemakaian cadar di Jerman sebelum adanya proposal ini.

Pada September 2003, Mahkamah Konstitusi federal memenangkan gugatan seorang guru yang ingin mengenakan jilbab ke sekolah.

Negara-negara bagian di Jerman dapat mengubah undang-undang mereka secara lokal jika mereka menginginkannya. Setidaknya setengah dari 16 negara bagian di Jerman melarang guru mengenakan jilbab.

Di negara bagian Hesse, larangan tersebut juga berlaku bagi pegawai negeri. Negara bagian Bavaria melarang penggunaan cadar di sekolah, tempat pemungutan suara, universitas, dan kantor pemerintah pada awal tahun 2017.

Austria

Koalisi yang berkuasa pada Januari 2017 sepakat untuk melarang cadar (niqab dan burka) di ruang publik seperti pengadilan dan sekolah. Undang-undang tersebut mulai berlaku pada Oktober tahun yang sama.  Pemerintah pada saat itu mengatakan sedang mempertimbangkan larangan mengenakan jilbab dan simbol keagamaan lainnya terhadap pegawai negeri.

Langkah-langkah tersebut dipandang sebagai upaya untuk melawan kebangkitan Partai Kebebasan sayap kanan, yang hampir memenangkan kursi presiden pada Desember 2016. Koalisi yang terdiri dari Partai Sosial Demokrat sayap kiri dan Partai Rakyat Austria yang konservatif mengatakan, penggunaan cadar di depan umum menghalangi komunikasi terbuka yang menurut mereka merupakan hal mendasar bagi masyarakat.

Diperkirakan hanya 150 perempuan yang mengenakan niqab lengkap di Austria. Namun pejabat pariwisata menyatakan kekhawatiran bahwa tindakan tersebut juga akan menghalangi pengunjung untuk mengunjungi negara-negara Teluk seperti yang akan diterapkan di resor ski, serta Ibu Kota Wina.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement