Rabu 30 Aug 2023 13:59 WIB

Netanyahu Ambil Kesempatan di Insiden Maskapai Mendarat di Arab Saudi

Netanyahu memanfaatkan insiden tersebut untuk menyoroti potensi peningkatan hubungan.

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Pesawat yang membawa warga Israel dari negara kepulauan Seychelles di Samudra Hindia melakukan pendaratan darurat di Arab Saudi sebelum diterbangkan kembali ke Tel Aviv.
Foto: AP
Pesawat yang membawa warga Israel dari negara kepulauan Seychelles di Samudra Hindia melakukan pendaratan darurat di Arab Saudi sebelum diterbangkan kembali ke Tel Aviv.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Pesawat yang membawa warga Israel dari negara kepulauan Seychelles di Samudra Hindia melakukan pendaratan darurat di Arab Saudi sebelum diterbangkan kembali ke Tel Aviv. Penerbangan Air Seychelles yang membawa 128 penumpang terpaksa melakukan pendaratan darurat karena kerusakan listrik. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memanfaatkan insiden tersebut untuk menyoroti potensi peningkatan hubungan.

“Saya sangat menghargai sikap hangat pemerintah Arab Saudi terhadap penumpang Israel yang penerbangannya mengalami kesulitan,” katanya dalam video yang direkam dalam bahasa Ibrani dengan teks bahasa Arab, Selasa (29/8/2023).

Baca Juga

Sambil menunjuk ke arah peta wilayah di belakangnya ia mengatakan "saya sangat menghargai sikap bertetangga yang baik.” Tidak ada reaksi langsung dari Arab Saudi.

Israel dan Arab Saudi tidak memiliki hubungan resmi, meskipun mereka telah mengembangkan hubungan informal yang kuat selama beberapa tahun terakhir karena kekhawatiran mereka mengenai semakin besarnya pengaruh Iran di wilayah tersebut.

Setelah Israel dan empat negara Arab menandatangani perjanjian normalisasi pada tahun 2020 di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump, pemerintah Presiden Joe Biden berupaya mencapai perjanjian serupa dengan Arab Saudi.

Normalisasi hubungan dengan Arab Saudi berpotensi mengubah kawasan dan meningkatkan posisi Israel dalam sejarah. Namun menuju kesepakatan semacam itu merupakan tantangan berat karena Arab Saudi menegaskan mereka tidak akan resmi mengakui Israel sebelum adanya resolusi terhadap konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Arab Saudi juga tampaknya mencari jaminan pertahanan dan akses terhadap teknologi nuklir Amerika.

Mencapai konsesi besar dalam konflik Israel-Palestina diperkirakan akan sulit dilakukan di bawah pemerintahan Israel saat ini. Israel sedang dikuasai kelompok ultranasionalis yang menolak kemerdekaan Palestina dan mendukung perluasan pemukiman Yahudi di lahan yang ingin dijadikan wilayah negara Palestina di masa depan.

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement