Kamis 31 Aug 2023 18:38 WIB

Turki Targetkan Mandiri Industri Pertahanan

Turki terus mengembangkan armada-armada pertahanan dan senjata pendukung.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Asosiasi asal Turki Independent Industrialists and Businessmen Association (Musiad) melakukan kunjungan ke kantor Republika pada Kamis (31/8/2023).
Foto: Republika.co.id
Asosiasi asal Turki Independent Industrialists and Businessmen Association (Musiad) melakukan kunjungan ke kantor Republika pada Kamis (31/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Turki ingin menjadi negara yang mandiri dalam industri pertahanan. President of Indonesia Independent Industrialists and Businessmen Association (Musiad) Halit Kaymak mengatakan pada Kamis (31/8/2023), tujuan itu dapat dicapai dengan terus mengembangkan armada-armada pertahanan dan senjata pendukung.

Salah satu yang dikembangkan adalah industri pesawat tempur. Menurut pemimpin asosiasi asal Turki cabang Indonesia, pesawat jet tempur tanpa awak pertama Turki Kizilelma atau "Red Apple"  salah satunya contoh dalam mencapai tujuan tersebut.

Baca Juga

Pesawat ini dikabarkan akan melakukan penerbangan pertama kali pada tahun ini. Kabar ini terkonfirmasi dari pengumuman di acara TEKNOFEST yang berlangsung di Turki.

"Dalam acara pembukaan TEKNOFEST dikatakan bahwa pesawat itu bisa melakukan penerbangan pertama tahun ini," ujar Halit saat mengunjungi kantor Republika.

Keberhasilan ini berangkat dari misi untuk mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pertahanan. Halit menjelaskan, Turki pernah berada dalam pelarangan impor senjata dari banyak pihak saat peristiwa operasi Siprus, termasuk anggota NATO dan sekutu.

Kondisi ini membuat Turki kesulitan memenuhi pasokan pertahanan dan bergantung dari pasokan negara lain. Dia mengibaratkan saat memiliki senjata tetapi tidak memiliki peluru karena itu didapat dari negara lain, maka akan ada kebergantungan.

"Kalau nanti terjadi di masa depan, maka harus ada sumber lokal, pengembangan pertahanan nasional, tidak bertahan dengan pihak lain," ujar Halit.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pun pernah menyatakan pada April lalu, negara itu mengurangi ketergantungan asing dalam industri pertahanan dari 80 persen menjadi 20 persen. “Kami telah mengurangi ketergantungan asing dalam industri pertahanan dari sekitar 80 persen menjadi sekitar 20 persen dalam waktu singkat selama 20 tahun. Jumlah proyek pertahanan, yang hanya 62 pada 2002, kini telah melampaui 750,” kata Erdogan dikutip dari Anadolu Agency.

Pemimpin Turki itu mengatakan, total anggaran Turki untuk proyek pertahanan adalah 5,5 miliar dolar AS pada 2002. Sekarang pos anggaran yang sama telah mencapai volume proyek 75 miliar dolar AS, termasuk yang sedang dalam proses penawaran.

"Beginilah setiap UCAV (kendaraan udara tempur tak berawak) kami yang menonjol di seluruh dunia saat ini dan kendaraan darat lapis baja, kapal perang, fregat, dan rudal kami, serta sistem lain, yang sangat dikagumi, telah muncul," kata Erdogan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement