Jumat 08 Sep 2023 18:45 WIB

98 Persen Populasi Dunia Terpapar Kenaikan Suhu Akibat Perubahan Iklim

Juli menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
Suhu panas. Ilustrasi
Foto: pixabay
Suhu panas. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Sebanyak 98 persen populasi dunia mengalami lonjakan suhu akibat perubahan iklim pada Juni hingga Agustus. Hal itu diungkap Climate Central, kelompok penelitian yang berbasis di Amerika Serikat (AS), lewat studinya yang dirilis Kamis (7/9/2023) malam.

Juli menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat. Sementara itu, suhu rata-rata di bulan Agustus juga 1,5 Celsius lebih tinggi dari suhu pra-industri.

Baca Juga

“Hampir tidak ada seorang pun di bumi yang lolos dari pengaruh pemanasan global selama tiga bulan terakhir,” kata Andrew Pershing, wakil presiden bidang sains Climate Central.

Climate Central mengamati suhu di 180 negara dan 22 wilayah. Pengamatannya menunjukkan bahwa 98 persen populasi dunia terpapar suhu lebih tinggi yang setidaknya dua kali lebih besar kemungkinannya disebabkan polusi karbon dioksida. “Di setiap negara yang dapat kami analisis, termasuk belahan Bumi selatan, yang merupakan waktu terdingin sepanjang tahun, kami melihat suhu yang sulit dicapai, dan dalam beberapa kasus hampir tidak mungkin terjadi, tanpa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia,” ungkap Pershing.

Climate Central menilai apakah kejadian panas lebih mungkin terjadi akibat perubahan iklim dengan membandingkan suhu yang diamati dengan suhu yang dihasilkan oleh model yang menghilangkan pengaruh emisi gas rumah kaca. Dikatakan bahwa sebanyak 6,2 miliar orang mengalami setidaknya satu hari suhu rata-rata yang setidaknya lima kali lebih mungkin terjadi akibat perubahan iklim, nilai maksimum dalam Indeks Pergeseran Iklim dari Climate Central.

Friederike Otto, ilmuwan iklim di Institut Perubahan Iklim dan Lingkungan Grantham mengatakan, gelombang panas di Amerika Utara dan Eropa Selatan tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim. “Kami telah mengamati gelombang panas yang terisolasi. Kemungkinannya tidak lima kali lebih besar. Hal ini menjadi jauh lebih mungkin terjadi karena hal tersebut tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan iklim,” ucapnya.

Musim panas di belahan Bumi utara pada 2023 telah menjadi musim panas terpanas sejak pencatatan dimulai. Gelombang panas yang berkepanjangan di Amerika Utara dan Eropa Selatan menyebabkan bencana kebakaran hutan serta lonjakan angka kematian.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement