Selasa 26 Sep 2023 13:53 WIB

Singapura Ledakkan Bom Seberat 100 Kilogram Era Perang Dunia II

Bom tersebut ditemukan di area pembangunan kondominium di Upper Bukit Timah Road

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Unit khusus militer Singapura, pada Selasa (26/9/2023), telah meledakkan bom seberat 100 kilogram era Perang Dunia II.
Foto: reuters
Unit khusus militer Singapura, pada Selasa (26/9/2023), telah meledakkan bom seberat 100 kilogram era Perang Dunia II.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA – Unit khusus militer Singapura, pada Selasa (26/9/2023), telah meledakkan bom seberat 100 kilogram era Perang Dunia II. Bom tersebut ditemukan di area pembangunan kondominium di Upper Bukit Timah Road pada Rabu (20/9/2023) pekan lalu.

Dilaporkan laman the Sun Daily, sebelum proses peledakan dilakukan, lebih dari 4.000 warga yang tinggal di sekitar lokasi dievakuasi. Personel militer Singapura memasang karung pasir di sekeliling area untuk menahan efek ledakan. Tentara kemudian membawa bom sebesar 100 kilogram tersebut dengan jaring dari lokasi penemuan ke dalam area karung pasir, tempat perangkat pemicu ledakan telah dipasang.

Baca Juga

Jalan-jalan di sekitar lokasi peledakan dikosongkan dari mobil. Garis pembatas sepanjang 200 meter juga dipasang di sekitar lokasi guna menjaga penduduk setempat tak mendekat ke area ledakan. Polisi sebelumnya telah memperingatkan warga agar tidak khawatir dengan peledakan bom era Perang Dunia II tersebut.

Ketika bom diledakkan pada Selasa pagi, awan jamur terbentuk dan terpantau dari kejauhan. Bom seberat 100 kilogram yang ditemukan di area konstruksi di Upper Bukit Timah Road kemungkinan besar dijatuhkan selama Pertempuran Bukit Timah pada bulan Februari 1942, yakni tahap terakhir jatuhnya Singapura ke tangan Jepang.

Para ahli sejarah di Singapura meyakini bom tersebut dikerahkan pesawat pendukung Tentara Kekaisaran Jepang di darat. Menurut mereka, bom yang diperkirakan memiliki kandungan 47 kilogram bahan peledak itu berdaya ledak tinggi. Ledakannya cukup untuk menghancurkan satu blok apartemen.

Dr Euan Graham, analis senior di Australian Strategic Policy Institute, mengungkapkan, ketika dijatuhkan dari ketinggian oleh pesawat yang melaju dengan kecepatan 320 kilometer per jam, bom seberat itu dapat dengan mudah menembus beberapa meter tanah. Sejarawan perang Singapura, John Kwok, mengatakan, sebuah bom dengan daya ledak tinggi dapat meledak ketika terjadi benturan. Bom juga biasanya dipasangi perangkat pemicu yang akan meledakkan bom beberapa waktu setelah dijatuhkan, Namun karena berbagai faktor, sekring bom bisa gagal meledakkan bahan peledaknya.

“Untuk beberapa alasan, sisa-sisa perang tersebut hilang selama pembersihan pasca perang. Mereka akan ditemukan lagi ketika area tersebut diganggu selama proyek konstruksi,” ujar John Kwok, dilaporkan laman The Straits Times.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement