Kamis 28 Sep 2023 09:40 WIB

Pemimpin Partai Konservatif Spanyol Gagal Jadi Perdana Menteri

Alberto Nunez Feijoo gagal mendapatkan suara yang cukup di parlemen untuk jadi PM

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Pemimpin konservatif Spanyol Alberto Nunez Feijoo gagal mendapatkan suara yang cukup di parlemen untuk menjadi perdana menteri.
Foto: AP
Pemimpin konservatif Spanyol Alberto Nunez Feijoo gagal mendapatkan suara yang cukup di parlemen untuk menjadi perdana menteri.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Pemimpin konservatif Spanyol, Alberto Nunez Feijoo, gagal mendapatkan suara yang cukup di parlemen untuk menjadi perdana menteri. Partai Rakyat yang dipimpin Feijoo memenangkan kursi terbanyak dalam pemilihan umum yang tidak meyakinkan pada bulan Juli.  Ia gagal meyakinkan cukup banyak legislator dari partai-partai lain untuk mendukungnya untuk memenangkan mayoritas absolut.

Dalam pemungutan Kamis (27/9/2023) Feijoo mendapatkan 172 suara yang mendukung dan 178 suara yang menolak dan tidak ada yang abstain. Hukum Spanyol mengizinkan Feijoo untuk mencoba lagi pada Jumat (28/9/2023) ketika mayoritas sederhana akan cukup baginya untuk terpilih sebagai perdana menteri.

Baca Juga

Sementara Feijoo diberi kesempatan pertama untuk membentuk pemerintahan, Penjabat Perdana Menteri Pedro Sanchez memiliki kesempatan yang lebih realistis meskipun sulit  untuk membujuk para anggota parlemen di parlemen agar mendukungnya di masa jabatan berikutnya.

"Jelas bahwa kami telah melakukan semua yang kami bisa, dan bahwa Spanyol dapat merasa tenang, karena kami akan terus bekerja untuk itu," kata Feijoo  setelah pemungutan suara.

Jika Feijoo gagal pada hari Jumat, Sanchez harus bernegosiasi dengan partai-partai pro-kemerdekaan Catalan, yang menuntut amnesti yang kontroversial dan tidak populer untuk para pemimpin dan aktivis yang terlibat dalam upaya 2017 untuk memisahkan wilayah tersebut dari Spanyol sebagai syarat untuk mendapatkan dukungan mereka.

Sanchez memiliki waktu dua bulan untuk menegosiasikan sebuah kesepakatan sebelum pemilihan umum baru diadakan jika ia juga gagal.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement