Sabtu 09 Dec 2023 12:52 WIB

Pejabat Israel Sebut Warga Sipil Palestina Layak Dikubur Hidup-hidup

Aryeh Yitzhak King mengatakan warga Palestina bukan manusia dan layak dikubur

Rep: Amri Amrullah / Red: Esthi Maharani
Warga Palestina berduka atas kematian kerabat mereka dalam pemboman Israel di Rafah, Jalur Gaza, Kamis (7/12/2023).
Foto: AP Photo/Hatem Ali
Warga Palestina berduka atas kematian kerabat mereka dalam pemboman Israel di Rafah, Jalur Gaza, Kamis (7/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV --- Pejabat Israel menyerukan agar warga Palestina yang ditangkap 'dikubur hidup-hidup'. Pernyataan rasial yang mengarah ke genosida ini disampaikan Wakil Wali Kota Yerusalem dari kelompok ekstrim sayap kanan.

Ia menggambarkan warga Palestina yang ditangkap di Gaza sebagai 'bukan manusia'. "Mereka bukan manusia & bukan hewan, mereka bukan manusia dan begitulah seharusnya mereka diperlakukan," kata Wakil Walikota Yerusalem, Aryeh Yitzhak King dalam sebuah posting di X pada hari Jumat (8/12/2023). 

Baca Juga

Yitzhak King menyerukan agar tentara Israel mengubur hidup-hidup ratusan warga sipil Palestina yang ditangkap di Gaza. Ia yang juga seorang politisi sayap kanan ini, mengatakan bahwa tentara Israel sedang menghabisi "Nazi Muslim" di Gaza dan menyarankan agar mereka meningkatkan kecepatannya untuk memusnahkan warga Palestina.  

Postingan tersebut secara spesifik merujuk pada rekaman yang diterbitkan oleh tentara Israel yang menunjukkan orang-orang Palestina yang ditangkap dilucuti hingga ke pakaian dalamnya, berlutut di tanah dan dijaga oleh tentara Israel. 

King, dalam postingannya yang telah dihapus karena melanggar aturan di X, mengatakan: "Jika terserah saya, saya akan mengirim buldoser D-9 dan meletakkannya di belakang gundukan tanah dan akan memberikan perintah untuk menutupi ratusan semut ini, selagi mereka masih hidup." 

Orang-orang itu diperkirakan ditangkap di Beit Lahia, di ujung utara Jalur Gaza. Israel mengatakan bahwa mereka adalah anggota Hamas, namun tidak memberikan bukti atas klaim yang tidak dapat diverifikasi secara independen. 

Diaa al-Kahlout, seorang jurnalis terkenal di al-Araby al-Jadeed, diidentifikasi oleh media lokal sebagai salah satu dari mereka yang ditahan. 

"Mereka bukan manusia dan bukan hewan. Mereka bukan manusia dan begitulah seharusnya mereka diperlakukan," kata King, seraya menambahkan, "Hapuskan ingatan tentang Amalek, dan jangan pernah lupakan." 

Amalek merujuk pada sebuah ayat Alkitab, yang juga telah dirujuk baru-baru ini oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Orang nomor satu di negara Zionis ini menyerukan pemusnahan setiap laki-laki, perempuan dan anak-anak, serta ternak mereka, yang merupakan bagian dari musuh kuno bangsa Yahudi.  

Beberapa orang Israel sayap kanan dan ultranasionalis di masa lalu menyebut orang Palestina sebagai orang Amalek modern. Di mana oleh para komentator dianggap sebagai bahasa genosida yang digunakan untuk membenarkan pembunuhan terhadap orang Palestina.

Sebagai wakil walikota, King mengelola semua wilayah di dalam kotamadya Yerusalem Israel, yang mencakup Yerusalem Timur yang diduduki dan hampir 400.000 warga Palestina. 

Lebih dari 17.000 warga Palestina di Gaza telah terbunuh oleh serangan Israel sejak perang dimulai dua bulan lalu. Sebagian besar korban tewas adalah wanita dan anak-anak. 

Kampanye pengeboman ini terjadi setelah serangan Hamas terhadap komunitas Israel selatan pada tanggal 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel, yang sebagian besar adalah warga sipil.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement