Rabu 06 Mar 2024 07:06 WIB

Menhan Jerman Ungkap Penyebab Bocornya Rekaman Rapat Militer

Peserta rapat perwira militer menggunakan jaringan tidak aman.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius (kanan) bersama Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto (kiri) menghadiri pertemuan mereka di Jakarta, Indonesia, (5/6/2023).
Foto: EPA-EFE/MAST IRHAM
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius (kanan) bersama Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto (kiri) menghadiri pertemuan mereka di Jakarta, Indonesia, (5/6/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan salah satu peserta rapat perwira militer yang dibocorkan Rusia dengan keliru menggunakan jaringan tidak aman. Ia menegaskan, sistem komunikasi Jerman tidak disusupi.

Pistorius menambahkan tampaknya kebetulan Rusia menyadap diskusi perwira angkatan udara Jerman melalui pengintian menyebar. Hal ini ia sampaikan saat memaparkan penilaian awal hasil penyelidikan kebocoran yang membuat Jerman malu dan menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan intelijennya.

Baca Juga

Pekan lalu, media Rusia merilis rekaman audio rapat perwira militer Jerman yang dilakukan melalui platform Webex. Dalam rekaman itu terdengar mereka membahas pengiriman senjata ke Ukraina dan target militer potensial yang dapat diserang termasuk jembatan Crimea.

"Sistem komunikasi kami tidak disusupi, alasan sambungan telepon daring angkatan udara dapat direkam karena kesalahan operasional individu," kata Pistorius, Selasa (5/3/2024). Peserta yang mengikuti rapat ini sedang berada di Singapura yang sedang menggelar pertunjukan angkatan udara. Kegiatan yang menarik perhatian pejabat militer Eropa, sehingga menjadi target badan keamanan Rusia.

"Kami harus berasumsi akses ke konferensi Webex kebetulan terkena kerangka pendekatan yang menyebar dan meluas," kata Pistorius. Ia mengatakan penggunaan Webex untuk sambungan telepon daring atau konferensi daring diizinkan. Ia mencatat Webex bukan perangkat lunak tertutup atau biasa disebut off-the-shelf tapi memiliki sertifikasi khusus yang memiliki server di pusat komputer Angkatan Bersenjata Jerman (Bundeswehr).

Pistorius mengatakan Jerman tetap menyelidiki apakah ada isu yang dibahas dalam rapat itu yang seharusnya tidak disampaikan di Webex. Ia menambahkan, Rusia sengaja membocorkan percakapan tersebut untuk memicu perpecahan di Jerman dan negara-negara sekutunya.

Dalam percakapan tersebut Komandan Angkatan Udara Jerman Ingo Gerhartz membahas kemungkinan pengiriman rudal jelajah Taurus ke Ukraina dengan tiga perwira tinggi lainnya. Hal yang ditolak dengan tegas Kanselir Jerman Olaf Scholz dihadapan publik.

Saat ditanya apakah kebocoran tersebut dapat mempengaruhi posisi Gerhartz, yang bukan merupakan orang yang melakukan panggilan dari Singapura, Pistorius mengatakan jika tidak ada hasil lebih lanjut dalam penyelidikan tersebut, “maka saya tidak akan mengorbankan salah satu perwira terbaik saya untuk permainan (Presiden Rusia Vladimir) Putin".

Pistorius mengatakan Jerman akan mengambil langkah teknis dan organisasional untuk memastikan kebocoran tidak terjadi lagi. Ia menambahkan sudah berbicara dengan negara-negara mitra yang mengungkapkan masih percaya dengan Jerman.

"Semua orang tahu bahaya serangan penyadapan dan tahu anda tidak bisa memastikan 100 persen perlindungan terhadapnya," kata Menteri Pertahanan Jerman itu. Sekutu-sekutu Jerman tidak memberikan reaksi publik terhadap rekaman tersebut. Meskipun beberapa politisi Inggris di luar pemerintahan mengkritik langkah-langkah keamanan Jerman.

Surat kabar The Times mengutip Mantan Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace yang mengatakan insiden tersebut menunjukkan Jerman "tidak aman dan tidak dapat diandalkan". Kremlin mengatakan rekaman tersebut menunjukkan angkatan bersenjata Jerman sedang mendiskusikan rencana untuk melancarkan serangan ke wilayah Rusia. Tuduhan yang dibantah Jerman sebagai sesuatu yang "tidak masuk akal". 

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement