Ahad 21 May 2017 08:44 WIB

KTT AS-Arab-Islam Diharapkan Memisahkan Terorisme dari Agama

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Angga Indrawan
Presiden AS Donald Trump berjalan bersama Raja Arab Saudi Salman usai upacara penyambutan di Royal Terminal King Khalid International Airport, Riyadh, Sabtu, 20 Mei 2017.
Foto: AP Photo/Evan Vucci
Presiden AS Donald Trump berjalan bersama Raja Arab Saudi Salman usai upacara penyambutan di Royal Terminal King Khalid International Airport, Riyadh, Sabtu, 20 Mei 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Pertemuan puncak AS-Arab-Islam di Riyadh diharapkan mengubah narasi yang terkait teror dan ekstrimisme. KTT itu akan memisahkan terorisme dari agama, budaya, peradaban atau daerah tertentu, terutama yang selama ini dikaitkan Islam.

Dilansir dari The News, Ahad (21/5), pembangunan narasi itu akan dibawa Presiden AS Donald Trump dan dipandu Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. Iran dan Suriah terabaikan dari undangan, tak lepas dari posisi Suriah yang tergusur dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Turki menjadi pimpinan OKI saat ini, tapi Presiden Recep Tayyip Erdogan tampaknya tidak ingin menghadiri pertemuan puncak dan diwakili menterinya. Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif, akan menekankan kasus di Pakistan atas perang melawan terorisme dan ekstrrmisme.

Hal itu dikarenakan Pakistan telah membuat pencapaian yang signifikan dengan menawarkan kontribusi saat tangani masalah di Afganistan. Presiden Sudan, Omar Al Bashir, telah didakwa melakukan kejahatan perang dan tuduhan genosida, tidak akan menghadiri pertemuan dengan alasan pribadi.

Sebagian besar pertemuan akan berlangsung di Istana Murabba Raja Salman bin Abdul Aziz, dengan KTT yang fokus kepada pemberantasan ISIS dan kelompok serupa. Selain itu, sebanyak 55 kepala negara dan pemerintahan dari dunia Muslim telah diundang untuk berpartisipasi di KTT tersebut.

KTT akan memberikan kesempatan negara-negara peserta untuk membahas cara mengatasi ancaman terorisme dan ekstremisme di seluruh dunia. KTT diharapkan bisa menghapus terorisme dari agama, budaya, peradaban atau stigma terhadap wilayah tertentu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement