Kamis , 24 Agustus 2017, 09:43 WIB

Serangan Udara di Yaman Tewaskan Puluhan Orang

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Dwi Murdaningsih
Yemen Times
Tentara anak Houthi di Yaman.
Tentara anak Houthi di Yaman.

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA -- Serangan udara di sebuah hotel di dekat ibukota Yaman yang dikuasai Houthi, Sana'a, telah menewaskan puluhan orang. Media lokal melaporkan, insiden ini terjadi di distrik Qaa al-Qaidhi, Arhab, pada Rabu (23/8).

Fahd Marhab, kepala rumah sakit Umrah yang berjarak sekitar 10 km dari lokasi serangan, mengatakan tidak ada yang terluka dalam serangan tersebut. Namun, semua orang yang berada di hotel itu dinyatakan tewas dalam serangan.

Almaseera, sebuah saluran televisi yang dikelola oleh pemberontak Houthi di negara itu, menyalahkan koalisi militer pimpinan-Arab Saudi yang bersekutu dengan pemerintah Yaman atas serangan tersebut. Saluran televisi itu mengatakan ada 41 warga sipil yang terbunuh dan jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat.

Namun pejabat dan saksi mata mengatakan, jumlah korban tewas telah mencapai 60 orang. Sebagian besar dari mereka yang terbunuh adalah pemberontak Houthi.

Hakim Al Masmari, seorang wartawan Yemen Post, mengatakan kepada Aljazirah dari Sana'a, serangan udara terjadi di beberapa wilayah di kota tersebut. "Ini mungkin pembantaian terbesar yang pernah diterima Yaman oleh koalisi pimpinan Saudi," ujar Al Masmari.

"Serangan udara terakhir di sebuah hotel pagi ini merupakan bagian dari setidaknya 25 serangan udara yang menargetkan Sanaa dan pinggiran kota sejak tengah malam. Serangan udara menyerang seluruh bagian Sanaa. Malam itu adalah malam yang mematikan," katanya.

PBB belum dapat mengkonfirmasi serangan udara dari koalisi pimpinan Arab Saudi ini. Namun menurut juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, pejabat hak asasi manusia sedang menyelidiki laporan yang masuk.

"Yang jelas adalah serangan terhadap warga sipil tidak dapat diterima. Ini adalah pesan yang sering kami ulangi dan kami akan terus ulangi," kata Dujarric di New York.

Stephen O'Brien, kepala kemanusiaan PBB, menyebut konflik antara pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dengan Houthi sebagai sebuah malapetaka yang sebenarnya dapat dihindari. Bencana ini sepenuhnya adalah bencana buatan manusia.

Jumlah serangan udara per bulan saat ini tiga kali lebih tinggi dari tahun lalu dan laporan bulanan bentrokan bersenjata meningkat 50 persen. Menurutnya, hanya koalisi Saudi yang memiliki sarana untuk melakukan serangan udara.