Senin , 16 October 2017, 18:23 WIB
AS Anggap UNESCO Memiliki Sikap Bias Anti-Israel

AS Hengkang dari UNESCO

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Agus Yulianto
AP
Gedung UNESCO. Ilustrasi
Gedung UNESCO. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Pekan lalu, Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menarik diri dari lembaga pendidikan dan kebudayaan dunia UNESCO. Alasan di balik keputusan tersebut adalah karena AS menganggap UNESCO memiliki sikap bias anti-Israel.

Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya mengungkapkan, bahwa keputusan untuk hengkang dari UNESCO tak diambil dengan mudah. "Keputusan ini tidak diambil dengan mudah dan mencerminkan kekhawatiran AS dengan meningkatnya tunggakan di UNESCO, kebutuhan akan reformasi fundamental, dan berlanjutnya bias anti-Israel dalamorganisasi tersebut," katanya.

AS memang diketahui memiliki tunggakan sebesar 500 juta dolar kepada UNESCO. Tunggakan ini menumpuk ketika AS, pada 2011 lalu, memutuskan menangguhkan iuran tahunannya sebesar 80 juta dolar atau lebih dari seperlima anggaran keseluruhan UNESCO sebagai bentuk protes mereka atas masuknya Palestina sebagai anggota di badan tersebut.

Kendati menangguhkan dananya, UNESCO tetap mengenakan AS biaya kontribusi setiap tahunnya. Alhasil, setelah beberapa tahun berlalu, AS menunggak utang sebesar 500 juta dolar kepada badan tersebut. Tak mengherankan bila Departemen Luar Negeri AS menyertakan masalah tunggakan ini dalam pernyataan hengkangnya mereka dari UNESCO.

Banyak kalangan menilai, bahwa AS hendak menyetop lonjakan utangnya dengan cara keluar dari badan PBB yang fokus dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan tersebut. Presiden AS Donald Trump memang telah lama memprotes besarnya anggaran AS untuk PBB. Negaranya diketahui mendanai 22 persen anggaran reguler PBB dan 28 persen biaya pemeliharaan perdamaian PBB. Menurut Trump besarnya iuran yang dibebankan kepada AS tersebut sangat tidak proporsional.

Namun alih-alih khawatir soal utang dan besarnya kontribusi, keputusan AS untuk keluar dari UNESCO lebih didorong oleh keberpihakan mereka terhadap Israel. AS menilai, UNESCO terlalu mendiskreditkan dan seolah anti dengan negara Zionis tersebut.

Salah satu contohnya adalah ketika UNESCO mendeklarasikan Hebron, sebuah kota di Tepi Barat, sebagai situs warisan dunia milik Palestina pada Juli lalu. Israel, yang telah bertahun-tahun menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur cukup gusar atas keputusan UNESCO tersebut. Israel berpendapat bahwa penetapan Hebron sebagai situs warisan dunia milik Palestina akan menghambat akses dan meniadakan hubungan mereka ke situs Yudaisme yang berada di daerah terkait.






Sumber : Reuters