Monday, 3 Jumadil Akhir 1439 / 19 February 2018

Monday, 3 Jumadil Akhir 1439 / 19 February 2018

Palestina Ingin Perdamaian Serius Berdasar Solusi Dua-Negara

Selasa 13 February 2018 10:12 WIB

Red: Ani Nursalikah

Jurnalis berlarian menghindari gas air mata yang ditembakkan tentara Israel di Kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina.

Jurnalis berlarian menghindari gas air mata yang ditembakkan tentara Israel di Kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina.

Foto: Mohamad Torokman/Reuters
Palestina ingin proses perdamaian yang mengakhiri pendudukan militer Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Sebagai reaksi atas pernyataan Donald Trump Palestina tidak tertarik pada proses perdamaian, seorang pejabat senior Palestina pada Senin (12/2) mengatakan Palestina sangat tertarik pada proses perdamaian yang sungguh-sungguh di Timur Tengah.

Dalam wawancara khusus dengan Xinhua, Anggota Komite Sentral Partai Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Fatah dan mantan perunding perdamaian dengan Israel, Mohamed Ishtayeh mengatakan, "Palestina menginginkan proses perdamaian serius yang mengakhiri pendudukan militer Israel dan mengembalikan hak sah mereka."

Ia juga mengatakan dalam satu wawancara di kantornya di Ramallah, Tepi Barat Sungai Yordan, Palestina bersedia, segera ketika ada keseriusan dalam proses politik yang memiliki pilihan yang jelas dengan dasar keabsahan internasional dan hukum internasional, dan dengan penengah yang jujur serta keterlibatan internasional.

Ishtayeh menekankan keadaan yang tak pernah diterima oleh Palestina ialah pergi ke proses perdamaian yang menjadi jembatan bagi Israel untuk menyalurkan dan mendiktekan proyek perluasan permukimannya dan melanjutkan pendudukan militernya atas tanah Palestina.

"Kami telah berulangkali berusaha selama bertahun-tahun belakangan jalur yang ditengahi AS dalam perundingan perdamaian bilateral, dan setiap kali, pembicaraan ini gagal ... masalahnya selalu tak ada penengah yang adil dan tak ada mitra perdamaian Israel yang sejati," kata Ishtayeh.

Ia menyatakan Pemerintah Israel saat ini di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bukan mitra dalam jalur perdamaian politik, sebab itu adalah pemerintah pemukim yang tak ingin mengakhiri pendudukan militer atas wilayah Palestina.

Ishtayeh mengomentari pernyataan yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump dalam satu wawancara yang disiarkan di harian Israel, Israel Hayom. Trump menuduh Palestina saat ini mereka tak memiliki keinginan dan minat untuk mewujudkan perdamaian.

Dalam wawancara dengan harian Israel tersebut, Trump juga mengatakan, "Kami menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi untuk mengajukan gagasan perdamaian kami, tapi saya masih tak melihat Palestina benar-benar berusaha untuk mewujudkan perdamaian." Ditambahkannya, ia tidak yakin Israel bertekad mencapai perdamaian, dan kedua pihak mesti membuat konsesi.

"Pemimpin Palestina secara positif telah menanggapi semua seruan AS dan internasional selama beberapa tahun belakangan dengan harapan menemukan jalur politik yang sungguh-sungguh," kata Ishtayeh. Ia menyatakan Palestina telah mengupayakan semua jalur untuk ini, tapi tak ada hasilnya.

Ia menegaskan Presiden Abbas bertemu dengan Netanyahu dalam tiga kesempatan terpisah. Namun setiap kali, perdana menteri Israel menolak membahas jalur politik yang serius yang mengarah ke perdamaian sejati di Timur Tengah.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jujitsu West Java Open Championship I

Ahad , 18 February 2018, 20:49 WIB