Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Arab Saudi dan UEA Kucurkan 3 Miliar Dolar AS ke Sudan

Senin 22 Apr 2019 05:07 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Rakyat Sudan merayakan setelah militer memaksa mundur Presiden Omar al-Bashir setelah 30 tahun berkuasa di Khartoum, Sudan, Kamis (11/4).

Rakyat Sudan merayakan setelah militer memaksa mundur Presiden Omar al-Bashir setelah 30 tahun berkuasa di Khartoum, Sudan, Kamis (11/4).

Foto: AP Photo
Arab Saudi dan UEA kucurkan dana 3 miliar dolar AS setelah terjadi krisis di Sudan

REPUBLIKA.CO.ID, KHARTOUM - Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah setuju untuk mengirim bantuan senilai 3 miliar dolar AS kepada Sudan. Bantuan ini diberikan setelah protes menyebabkan penggulingan presiden Omar al-Bashir sehingga menyebabkan krisis berkepanjangan.

Kedua negara Teluk Arab akan menyumbangkan 500 juta dolar AS ke bank sentral Sudan dan mengirimkan sisanya dalam bentuk makanan, obat-obatan dan produk minyak bumi, kata kantor berita negara-negara tersebut, Ahad (21/4).

Baca Juga

Bantuan tersebut datang di tengah perselisihan antara Dewan Militer Transisi (TMC), pengunjuk rasa dan kelompok oposisi yang menuntut agar warga sipil memimpin masa transisi dua tahun.

Para pengunjuk rasa terus duduk di luar Kementerian Pertahanan sejak Bashir dicopot pada 11 April. Mereka telah berdemonstrasi dalam jumlah besar selama tiga hari terakhir, mendesak penyerahan cepat ke pemerintahan sipil.

Kepala TMC Abdel Fattah al-Burhan mengatakan kepada TV pemerintah bahwa pembentukan dewan militer-sipil bersama, yang merupakan salah satu tuntutan aktivis, sedang dipertimbangkan.

"Masalah ini telah diajukan untuk diskusi dan visi belum tercapai. Peran dewan militer melengkapi pemberontakan dan revolusi yang diberkati," kata Burhan, menambahkan bahwa TMC berkomitmen untuk menyerahkan kekuasaan kepada rakyat.

Tetapi koalisi pemrotes dan kelompok oposisi mengatakan TMC tidak serius menyerahkan kekuasaan kepada warga sipil, menggambarkan dewan sebagai perpanjangan rezim lama.

"Kami telah memutuskan untuk memilih eskalasi dengan dewan militer, bukan untuk mengakui legitimasinya dan untuk melanjutkan aksi duduk dan meningkatkan protes di jalan-jalan," Mohamed al-Amin Abdel-Aziz, dari Asosiasi Profesional Sudan, mengatakan kepada kerumunan terbesar di luar kementerian pertahanan.

Burhan juga mengkonfirmasi untuk pertama kalinya bahwa Bashir dan sejumlah mantan pejabat, termasuk pembantu presiden Nafie Ali Nafie, penjabat ketua partai Ahmed Haroun dan mantan wakil presiden pertama Ali Osman Taha, ditahan di sebuah penjara dengan keamanan tinggi di Khartoum North.

"Mereka semua berada di penjara Kobar," katanya. Dia menambahkan bahwa sejumlah besar simbol rezim lama yang diduga korupsi akan diadili.

Burhan mengatakan pihak berwenang telah menemukan 7 juta euro di rumah Bashir, bersama dengan 350 ribu dolar AS. Bantuan dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah bantuan besar pertama yang diumumkan secara publik ke Sudan dari negara-negara Teluk dalam beberapa tahun.

Kedua negara Teluk memiliki hubungan dengan Burhan dan wakilnya, Mohamed Hamdan Dagalo, melalui partisipasi mereka dalam pertempuran koalisi yang dipimpin Saudi di Yaman.

Sudan menderita krisis ekonomi yang semakin parah yang menyebabkan kekurangan uang dan antrian panjang di toko roti dan pompa bensin. 

sumber : Ar
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA