Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Oposisi Venezuela Ingin Bentuk Pemerintahan Transisi

Kamis 21 Feb 2019 07:26 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro saat peringatan Angostura Discour Bicentennial di Ciudad Bolivar, Venezuela (15/2).

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro saat peringatan Angostura Discour Bicentennial di Ciudad Bolivar, Venezuela (15/2).

Foto: EPA
Oposisi Venezuela membujuk pejabat Partai Sosialis untuk pemerintahan transisi.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Oposisi pemerintah Venezuela mencoba menyakinkan pejabat Partai Sosialis untuk bergabung dengan pemerintah transisi. Mereka mengubah fokus dari menggulingkan pemerintah Presiden Nicolas Maduro yang tengah menghadapi tekanan masyarakat internasional dan sanksi Amerika Serikat.

Baca Juga

Pada bulan lalu, ketua oposisi dan Kongres Venezuela Juan Guaido atas nama konstitusi mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai presiden sementara. Menurutnya pemilihan umum 2018 yang dimenangkan Maduro tidak sah.

Guaido langsung mendapat pengakuan dari AS dan negara Amerika Latin agar posisinya aman Guaido mengajukan amnesti kepada militer Venezuela yang mendukungnya. Tapi hanya sedikit yang akhirnya membelot.

Perwira-perwira tertinggi militer Venezuela masih mendukung Maduro. Meredupkan harapan krisis ekonomi yang membuat jutaan rakyat Venezuela mengungsi dan menciptakan krisis kemanusiaan dapat segera berakhir.

Di tengah kekhawatiran perubahan telah terhenti selama beberapa pekan terakhir ketua oposisi mulai berbicara tentang membawa Partai Sosialis mendukung pemerintahan transisi yang potensial. "Transisi ini membutuhkan kesepakatan nasional yang besar antara kekuatan politik di negeri ini," kata Wakil Presiden badan legislatif Venezuela National Assembly, Edgar Zambrano, Kamis (21/2).

Zambrano mengatakan transisi pemerintah ini harus melibatkan 'Chavismo'. Pergerakan sayap-kiri yang didirikan pemimpin Venezuela sebelumnya Hugo Chavez, orang yang menunjuk Maduro sebagai penggantinya.

"Anda tidak bisa menghilangkan Chavismo dan Anda tidak bisa yang disiksa menjadi penyiksa, ini bukan politik balas dendam," kata Zambrano.

Belum diketahui bagaimana oposisi membangun jembatan dengan Partai Sosialis. Para pemimpin oposisi mengatakan mereka tetap mempertahankan komunikasi dengan pejabat-pejabat pemerintah dan perwira militer tapi pembicaraan tersebut dilakukan secara rahasia untuk menghindari dampak yang dapat terjadi pada mereka yang terlibat.

Maduro mengatakan ia korban dari upaya kudeta yang dilakukan AS. Ia juga menolak untuk mengundurkan diri. Banyak pendukung oposisi yang berharap dapat melihat Maduro dan sekutunya diasingkan atau dipenjara akan frustasi dengan upaya membawa mereka ke dalam masa transisi.

Keputusuan Guaido untuk mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara membuat oposisi Venezuela yang terpecah-pecah. Deklarasi itu juga memicu unjuk rasa besar-besaran di jalan, berharap perubahan dapat segera terjadi setelah banyak negara yang memberikan dukungan kepada Guaido. Apalagi, ditambah sanksi AS yang menekan industri minyak yang sangat vital bagi Venezuela.

Ada beberapa pemimpin opisisi yang diam-diam memprediksi pada 23 Januari militer akan mengumumkan mendukung Guaido. Tapi petinggi militer tetap diam setelah berjam-jam Guaido mengumumkan pendeklarasian dirinya, mendorong spekulasi Maduro melakukan negosiasi dengan petinggi militer agar mereka tidak pindah haluan.

Hanya ada segelintir perwira aktif yang mendukung Guaido. Ekspektasi pengumuman cepat militer telah memberi jalan kepada proses peralihan kekuasaan yang lambat dan rumit baik bagi Venezuela maupun AS.

"Saya tidak berpikir (AS) mengerti kerumitan sasaran, yakin Venezuela; semua keamanan yang tumpang-tindih yang dimiliki Maduro; hal-hal yang diinginkannya," kata salah satu mantan pejabat pemerintah AS yang masih berhubungan dengan pemerintah saat ini. 

Gagasan persatuan di Venezuela sebenarnya dimasukkan ke dalam ketentuan Undang-undang Transisi yang diloloskan National Assembly bulan lalu. Empat partai utama oposisi mendukung gagasan tersebut. Tapi dalam beberapa pekan terakhir ini pembahasan tentang gagasan tersebut semakin meningkat.

"Orang-orang harus mengerti Chavismo tidak hanya Maduro," kata anggota legislatif Venezuela Stalin Gonzalez, pekan lalu.

Beberapa pendukung oposisi mengatakan mereka terbuka dengan sosialis tingkat menengah atau mantan anggota sosialis. Tapi tidak dengan pejabat tinggi Partai Sosialis.

"Mereka harus membayar apa yang mereka lakukan," kata Maria Elena Fonseca, perempuan 78 tahun yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup meski bekerja sebagai psikolog. 

Seperti rakyat Venezuela lainnya Fonseca melihat penghasilannya terus terkikis dengan hiperinflansi yang kini mencapai 2 juta persen. Fonseca dikirimi uang oleh putrinya yang mengungsi ke luar negeri bersama 3 juta orang Venezuela lainnya.

"Ini bukan tentang balas dendam, ini tentang keadilan," kata Fonseca.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA