Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Maduro: Venezuela Hadapi Perang tanpa Sejata

Jumat 05 Apr 2019 12:09 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nur Aini

Nicolas Maduro

Nicolas Maduro

Foto: EPA-EFE/Miguel Gutierrez
Maduro memberi pernyataan di tengah krisis Venezuela.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan negaranya tengah menghadapi perang ‘non-tradisional’ atau disebut olehnya tanpa ada senjata. Pernyataan itu muncul di tengah situasi krisis yang diperburuk dengan terjadinya pemadaman listrik besar-besaran selama beberapa pekan terakhir.

Baca Juga

“Ini adalah perang non-tradisional terhadap layanan publik untuk membuat negara ini tidak terkendali dan datang melalui kekacauan serta kekerasan,” ujar Maduro dalam sebuah pidato yang disiarkan melalui saluran Periscope pada Kamis (4/4).

Maduro mengatakan bahwa Venezuela menghadapi kudeta listrik yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan sejumlah oposisi negara itu. Ia menegaskan bahwa pihak berwenang menentang upaya penggulingan terhadap dirinya dan saat ini berusaha membuat negara menuju perdamaian, stabilitas, dan persatuan nasional.

Maduro juga menjelaskan rencana Venezuela untuk mendirikan pusat penyimpanan air di seluruh wilayah negara itu. Hal itu sebagai bentuk antisipasi jika pemadaman listrik kembali terjadi.

“Saya menekankan bahwa untuk melawan serangan imperialistik pada sistem yang kritis, seluruh rakyat Venezuela harus menghemat air dan membuat persediaan,” Maduro menambahkan.

Menteri Administrasi Air Venezuela Evelyn Vasquez mengatakan operasi stasiun pompa air telah dipulihkan di sebagian besar wilayah Venezuela. Namun, hingga saat ini beberapa daerah masih mengalami kekurangan pasokan air.

Pemadaman listrik terjadi di Venezuela pada 7 Maret selama hampir satu pekan di sejumlah wilayah, termasuk secara luas di Ibu Kota Caracas. Setelah sempat dipulihkan, pemadaman kembali terjadi pada 25 Maret. Akibatnya, warga tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, yaitu air dan makanan, membuat situasi krisis di negara Amerika Selatan itu semakin buruk.

Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido terus meminta agar para pendukungnya dan masyarakat seluruhnya menggelar aksi protes. Ia mengatakan konstitusi negara perlu memangku jabatan sementara karena rezim Maduro tidak memiliki solusi apapun untuk mengatasi krisis.

“Setiap kali listrik padam, tidak ada air dan gas, apa yang akan kami lakukan? Kami akan protes, mengajukan tuntutan, dan turun ke jalan karena itu adalah hak kami,” ujar Guaido.

Maduro menyatakan bahwa pemadaman listrik besar-besaran yang terjadi di Venezuela adalah sebuah sabotase. Ia pun menyalahkan Amerika Serikat (AS) karena telah mengorbankan perang energi terhadap mereka. Ia juga menuding bahwa Guaido berencana untuk menggulingkan kepemimpinannya dengan dukungan dari Washington.

Guaido telah diakui oleh sebagian besar negara-negara Barat dan Amerika Selatan sebagai pemimpin Venezuela. Hal itu karena pemilihan kembali Maduro pada Mei 2018 dianggap tidak sah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA