Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Cina Semakin Keras Pertahankan Kamp Muslim di Xinjiang

Jumat 01 Mar 2019 22:51 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Kegiatan ibadah Shalat di Masjid Jiamai, Kota Hotan, Xinjiang

Kegiatan ibadah Shalat di Masjid Jiamai, Kota Hotan, Xinjiang

Foto: Republika/Bayu Hermawan
Kamp muslim di Xinjiang membuat Cina mendapat hujan kritik dari dunia internasional.

REPUBLIKA.CO.ID, XINJIANG -- Cina semakin lantang mempertahankan program deradikalisasinya. Kepada diplomat-diplomat asing yang  baru-baru datang ke Cina, pejabat Xinjiang mengatakan 'khotbah-khotbah absurd' dari ekstremis Islam di Xinjiang dapat membuat beberapa orang menjadi 'pembunuh kejam'.

Kebijakan kamp pengasingan Xinjiang membuat Beijing mendapatkan hujan kritikan dari masyarakat internasional. Negara-negara Barat dan kelompok hak asasi manusia menilai program yang Cina sebut fasilitas vokasi dan pelatihan tersebut itu sebenarnya kamp pengasingan untuk suku minoritas Uighur dan kelompok Muslim lainnya. 

Kepada diplomat-diplomat asing, Deputi Gubernur Xinjiang Erkin Tuniyaz, yang keturunan Uighur mengatakan kekerasan yang dilakukan oleh para fanatik "pernah merajalela" di Xinjiang. Pernyataan itu berdasarkan dari salinan pidato Erkin di Guest House Tamu Negara Diayutai di Beijing.

"Teroris, ekstremis, dan separatis berkhotbah 'membunuh orang pagan lebih baik daripada beribadah 10 tahun, dan siapa yang melakukannya dapat langsung terbang ke surga' dan 'jihad adalah untuk membunuh, dan martir adalah mengorbankan nyawa sendiri'," kata Erkin, Jumat (1/3).

Cina sudah berulang kali membantah tuduhan memperlakukan dengan buruk orang-orang Uighur yang berada di kamp pengasingan mereka. Cina juga menuduh kritik negara-negara Barat yang bias politik. Menurut mereka, Xinjiang berhasil stabil dengan kebijakan yang keras.

"Khotbah-khotbah seperti itu dan yang absurd lainnya membuat beberapa warga biasa menjadi pembunuh kejam, yang tiba-tiba melakukan serangkaian kejahatan," kata Erkin dalam bahasa yang keras.

Erkin Tiniyaz mengatakan pusat re-edukasi Cina sangat menghargai dan melindungi hak asasi warga di dalamnya. Fasilitas itu menawarkan pelatihan dan makanan halal, meski aktivitas keagamaan tidak diperbolehkan. 

"Mereka memastikan martabat pribadi siswa pelatihan tidak dilanggar, dan sangat dilarang melakukan pelecehan dalam bentuk apa pun terhadap siswa pelatihan," kata Erkin.

Erkin mengatakan kritik terhadap kamp itu tidak lebih dari noda yang bertujuan untuk memisahkan yang benar dari yang salah. Empat sumber diplomatik mengatakan pertemuan tersebut juga mempresentasikan kesaksian dua orang mantan siswa kamp pelatihan tersebut.

Mereka memberitahu para diplomat asing bagaimana kamp yang didirikan pemerintah Cina menyelamatkan mereka dari ekstrimisme. Salah satu diplomat mengatakan sangat jelas presentasi itu dibuat-buat. Diplomat lainnya menggambarkan presentasi tersebut sebagai sebuah 'pertunjukan' dan ia menduga dua orang tersebut hanya aktor belaka.

Pemerintah Xinjiang menolak memberikan komentar. Kementerian Luar Negeri Cina menjawab pertanyaan melalui fax. Mereka mengatakan pertemuan tersebut dilakukan dengan 'penuh interaksi dan pertukaran'. Mereka yang hadir di pertemuan tersebut diundang ke Xinjiang untuk memahami aspirasi rakyat atas perdamaian.

"Anda tidak akan pernah bisa membangunkan orang yang berpura-pura tertidur," kata Kementerian Luar Negeri Cina tanpa menjelaskan maksudnya.

Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan pertemuan itu dipublikasikan pada hari Ahad pekan lalu di situs mereka. Mereka mengutip Deputi Menteri Luar Negeri Cina Zhang Hanhui yang mengatakan kepada para diplomat, Cina seharusnya mendapatkan tepuk tangan karena menciptkan metode baru dalam menangkal ekstremisme.

Salah satu diplomat mengatakan Cina tampak sedang mencoba menerapkan propaganda domestik ke masyarakat internasional. Menurut diplomat tersebut Cina juga sepertinya berharap isu ini dapat segera hilang jika mereka sering menyampaikan pendapat mereka, dengan cukup kuat dan keras.

"Cina tidak bisa melihat lemahnya kredibilitas mereka, akan sangat sulit untuk membuat orang yang datang percaya kasus ini cukup menarik," kata diplomat tersebut.

Walaupun banyak dikecam tapi sekutu-sekut Cina mendukung program tersebut. Rusia, Kamboja, dan Venezuela mendukung kebijakan Cina di Xinjiang.

Empat sumber diplomatik mengatakan beberapa utusan bertanya tentang jumlah orang yang berada di kamp pelatihan tersebut. Tapi mereka tidak mendapatkan jawaban langsung. Semua diplomat tidak mau namanya disebutkan karena mereka tidak berwenang untuk menyampaikan informasi ini.

Beberapa sumber diplomatik mengatakan selama beberapa bulan terakhir ada diplomat melakukan kunjungan pribadi ke Xinjiang. Para diplomat tersebut mengatakan mereka diikuti oleh petugas keamanan setempat atau menemukan warga yang terlalu takut untuk berbicara dengan orang asing.

Pemerintah Cina memang sempat membawa jurnalis asing datang ke Xinjiang. Tapi mereka diawasi dengan sangat ketat. 

Pada tahun lalu ada laporan yang menggambarkan kondisi di dalam kamp pengasingan Xinjiang. Dalam foto-foto yang beredar kamp tersebut dijaga oleh menara pengawas dan dikelilingi pagar kawat.

Erkin Tuniyaz mengatakan pemerintahnya menyambut semua orang yang datang 'untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di Xinjiang'. Ia mengatakan orang-orang di Xinjiang ramah dan terbuka.

"Xinjiang yang stabil dan berkembang dengan harmonis menyambut kunjungan Anda dengan keterbukaan dan kepercayaan diri semoga persahabatan kita bertahan selamanya!" kata Erkin.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA