Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Jelang Peringatan Tiananmen, Cina Perketat Jaringan Internet

Ahad 26 May 2019 16:05 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Dwi Murdaningsih

Tiananmen Square

Tiananmen Square

Foto: ABCNews
Cina memblokir konten terkait dengan penumpasan yang terjadi pada 1989 tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pada 4 Juni mendatang, Cina akan menggelar peringatan dari penumpasan berdarah terhadap protes pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen. Menjelang peringatan ini, perusahaan internet di Cina tengah bekerja keras untuk mendeteksi dan memblokir konten terkait dengan penumpasan yang terjadi pada 1989 tersebut.

"Kami kadang-kadang mengatakan bahwa kecerdasan buatan adalah pisau bedah, dan manusia adalah parang," kata seorang karyawan penyaringan konten di Beijing Bytedance Co Ltd, yang enggan disebutkan namanya, Ahad (26/5).

Karyawan perusahaan tersebut menytakan, unggahan yang menyinggung tanggal, gambar, dan nama yang terkait dengan aksi protes tersebut akan ditolak secara otomatis. "Ketika saya pertama kali memulai pekerjaan semacam ini empat tahun lalu, ada peluang untuk menghapus gambar-gambar Tiananmen, tetapi sekarang kecerdasan buatan sangat akurat," ujar karyawan tersebut.

Aplikasi Bytedance, Weibo Corp dan Baidu Inc telah menyensor antara 5.000-10.000 lembar informasi per hari, atau lima hingga tujuh lembar per menit. Sebagian besar konten yang disensor adalah konten pornografi atau kekerasan.

Peristiwa Tiananmen adalah hal yang tabu di Cina. Beijing tidak pernah merilis angka kematian dari peristiwa tersebut, kelompok hak asasi manusia dan saksi menyatakan, korban tewas berkisar antara ratusan hingga ribuan.

Menjelang peringatan di Lapangan Tiananmen tahun ini, sensor media sosial menargetkan kelompok LGBT, aktivis buruh dan lingkungan, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Peningkatan teknologi sensor telah didorong oleh kebijakan baru yang diperkenalkan oleh Cyberspace Administration of China (CAC).

CAC dibentuk dan secara resmi dipimpin oleh Presiden Xi Jinping, yang semakin memperketat kontrol ideologis dan internet. November lalu, CAC memperkenalkan aturan baru yang bertujuan untuk menghentikan pertikaian online di Cina.

Aturan baru ini mensyaratkan laporan penilaian dan kunjungan situs untuk platform internet apa pun yang dapat digunakan untuk mobilisasi sosial atau mengarah pada perubahan besar dalam opini publik. Termasuk akses ke nama asli, alamat jaringan, waktu penggunaan, log obrolan dan log panggilan. Seorang pejabat yang bekerja untuk CAC mengatakan kepada Reuters, peningkatan sensor online baru-baru ini sangat mungkin terkait dengan peringatan Tiananmen.

Perusahaan-perusahaan, sebagian besar telah menerima sedikit arahan dari CAC. Namun mereka bertanggung jawab untuk membuat pedoman dalam unit internal mereka sendiri.

Dengan cengkeraman Xi yang semakin ketat dalam penggunaan internet, arus informasi telah terpusat di bawah Departemen Propaganda Partai Komunis dan jaringan media pemerintah. Hal ini mengurangi tekanan menyensor beberapa peristiwa, termasuk berita politik utama, bencana alam, dan kunjungan diplomatik.

"Ketika datang ke berita, aturannya sederhana, jika bukan dari media negara terlebih dahulu, itu tidak resmi, terutama mengenai para pemimpin dan barang-barang politik," kata seorang staf di Baidu.

Dalam enam minggu terakhir, layanan populer termasuk aplikasi berita Netease Inc, aplikasi berita Tencent Holdings Ltd, TianTian, dan Sina Corp telah terkena suspensi. Artinya layanan tersebut dibuat sementara tidak tersedia di aplikasi. Di Cina, akun media sosial ditautkan dengan nama asli dan nomor ID nasional oleh hukum. Secara hukum perusahaan dipaksa untuk memberikan informasi pengguna kepada pihak berwenang ketika diminta.

Pada 2015, seorang pengguna internet Andrew Hu menghabiskan masa tahanan selama tiga hari di Mongolia. Dia ditahan setelah memposting komentar tentang polusi udara dan menyinggung penumpasan Tianananmen di situs media sosial. Hu menolak menggunakan nama lengkap Cina-nya untuk menghindari pertikaian lebih lanjut dengan hukum.

"Otoritas yang bertanggung jawab dan pengguna internet sama-sama bingung. Bahkan jika penegakannya tidak teratur, mereka tahu pilihan sederhana adalah meningkatkan tekanan," kata Hu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA