Jumat, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Jumat, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Jumlah Pengunjuk Rasa Rompi Kuning Terus Meningkat

Ahad 24 Mar 2019 06:23 WIB

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Nidia Zuraya

Pengunjuk rasa rompi kuning.

Pengunjuk rasa rompi kuning.

Foto: EPA-EFE/CAROLINE BLUMBERG
Unjuk rasa Rompi Kuning tetap digelar meski keamanan piperketat

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Rakyat Prancis masih menggelar unjuk rasa rompi kuning meski pemerintah sudah memperketat keamanan. Dalam unjuk rasa Sabtu (23/3) kemarin sempat terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi tapi tidak terjadi kerusuhan seperti pekan-pekan sebelumnya.

Ribuan pengunjuk rasa memadati jalan-jalan kota Prancis. Di dekat Menari Effel para pengunjuk rasa membawa spanduk yang meminta Presiden Emmanuel Macron untuk turun dari jabatannya.

Sore harinya, polisi menembakkan gas air mata ke pengunjuk rasa yang berada di Boulevard de Strasbourg dekat stasiun kereta Gare du Nord dan Gare de L'Est. Tapi Menteri Dalam Negeri Prancis  Christophe Castaner mengatakan karena pengamanan ditingkatkan unjuk rasa pekan ini sebagian besar berjalan dengan damai.

"Metode yang tepat sudah diterapkan, dan hasilnya bisa terlihat sendiri," kata Castaner seperti dilansir dari Deutch Welle, Ahad (24/3).

Castaner mengatakan pekan ini ada sekitar 5.000 pengunjuk rasa. Turun dari pekan lalu yang sebanyak 10.000 orang.

Sementara itu di seluruh Prancis ada 35.500 orang naik dari pekan lalu sebanyak 32.300 orang. Castaner menambahkan polisi menangkap 232 pengunjuk rasa dari seluruh Prancis.

Unjuk rasa di Paris pekan lalu berubah menjadi kerusuhan. Membuat pemerintah Prancis mengumumkan akan memperketat pengamanan selama unjuk rasa yang digelar setiap hari Sabtu itu.

Kepala kepolisian Prancis mengundurkan diri dan penggantinya Didier Lallement mengumumkan larangan melakukan unjuk rasa di Champs Elysees, kantor kepresidenan dan di dekat gedung parlemen. Ia mengatakan telah membuat unit khusus yang dapat bertindak cepat saat unjuk rasa berubah menjadi kerusuhan.

Pengamanan yang sama juga diberlakukan di kota-kota Prancis lainnya. Termasuk Toulouse, Bordeaux, Dijon, Rennes dan Nice, di mana Macron akan bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping pekan ini.

Pada pekan ini ada enam orang pengunjuk rasa yang ditahan di Nice karena berdemonstrasi di Place Garibaldi. Alun-alun itu sudah dilarang digunakan untuk unjuk rasa. Beberapa orang lainnya juga dipaksa keluar dari sana. 

Pemerintah Prancis juga mengerahkan tentara dalam operasi anti-teror 'Sentinelle' untuk menjaga gedung-gedung pemerintah. Hal ini membuat polisi dapat fokus menjalankan operasi menjaga ketertiban umum selama unjuk rasa rompi kuning.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA