Jumat 24 Jul 2015 01:00 WIB

PBB Bangga Siprus akan Bersatu Kembali

Ban Ki Moon
Foto: Reuters/Andreea Campeanu
Ban Ki Moon

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Dukungan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk penyatuan kembali Siprus "menggembirakan" meskipun tidak ada tenggat yang telah ditetapkan, kata Penasehat Khusus PBB untuk Siprus, Rabu (22/7).

"Semua (15 negara anggota Dewan Keamanan) sangat mendorong pekerjaan kedua pemimpin, dan mengakui upaya yang mereka buat dengan berpikir tentang gambaran besar bukannya bersikeras pada detil kecil," kata Espen Barth Eide, penasehat asal Norwegia untuk Siprus bagi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon.

Eide, yang berbicara setelah pertemuan tertutup dengan dewan, mengatakan "upaya baru ini diakui di New York dan sangat disambut."

Upaya perdamaian yang ditengahi Perserikatan Bangsa Bangsa yang telah lama macet --dalam apa yang dilihat sebagai kesempatan terbaik dalam beberapa tahun untuk menyatukan kembali Siprus setelah perpecahan selama empat dasa warsa-- diluncurkan pada 15 Mei.

"Ada iklim yang sangat baik dan kemajuan nyata tapi banyak pekerjaan yang harus dilakukan," kata Eide memperingatkan.

"Pesan dari setiap anggota Dewan Keamanan yang baru saja kami dengar adalah tidak ada waktu untuk kalah, momentum ini harus ditegakkan."

Eide mengatakan ia "sangat terdorong untuk kembali ke Siprus dan menggelar pertemuan berikutnya dengan dua pemimpin pada Senin pagi."

Dia merujuk pada Mustafa Akinci, pemimpin utara yang diakui Turki dan Nicos Anastasiades pemimpin yang diakui Yunani.

Ditanya tentang tenggat waktu, Eide mengatakan tidak ada tenggat untuk itu.

"Kami semua setuju, para pemimpin, saya dan tim saya, bahwa kami tidak menginginkan tenggat. Saya akan sangat ragu-ragu untuk berbicara tentang tenggat berapa bulan atau tanggal. "

Siprus telah terpecah sejak tahun 1974, ketika pasukan Turki menduduki sepertiga bagian utara sebagai reaksi atas kudeta yang diinspirasi Athena untuk bergabung dengan Yunani.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement