Kamis 10 Aug 2017 09:24 WIB

Nigeria Tingkatkan Pengawasan Demam Lassa yang Mematikan

Peta Nigeria
Foto: Google
Peta Nigeria

REPUBLIKA.CO.ID, LAGOS, NIGERIA -- Nigeria meningkatkan kegiatan pengawasan dan pemantauan di Lagos University Teaching Hospital (LUTH), tempat dua pasien dicatat meninggal dan lebih dari 100 orang berada dalam pengawasan mengenai Demam Lassa.

Sementara pasien diawasi oleh dokter dan perawat di Unit Darurat dan Kecelakaan, petugas kebersihan rumah sakit itu juga terlihat mengenakan masker dan sarung tangan saat mereka membersihkan lingkungan dan kamar rumah sakit.

Orang tak diperkenankan masuk atau mendekati Pusat Isolasi, tempat lebih dari 100 orang masih dirawat. Association of Resident Doktors (ARD) juga mengkonfirmasi seorang anggota mereka telah diperiksa positif terserang Demam Lassa.

Presiden ARD, LUTH, Adebayo Sekunmade, sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi, mengatakan managemen rumah sakit sedang menangani keadaan. Perhimpunan Medis Nigeria (NMA) di Negara Bagian Lagos telah menyerukan lebih banyak pencerahan masyarakat dan kebersihan personal guna mencegah penyebaran penyakit tersebut.

Olubunmi Omojowolo, Ketua NMA --yang bereaksi terhadap kematian dua pasien Demam Lassa pada Selasa, mengatakan yang paling penting sekarang ialah pendidikan dan kebersihan. "Saya kira di Nigeria, kita menangani masalah Demam Lassa secara sembrono tidak seperti cara kita menangani Virus Ebola," ia menambahkan.

"Salah satu masalah ialah Demam Lassa telah ada di antara kita dan telah muncul lagi, jadi rakyat sudah terbiasa dengan itu; tapi itu bukan sesuatu yang mesti membuat kita terbiasa," katanya.

Menurut dia, Ebola dan Demam Lassa adalah penyakit yang sangat dekat dan mematikan dan apa yang mesti dilakukan ialah rakyat mesti dididik. Dokter tersebut menyatakan tantangan utama dengan penyakit tersebut ialah ketidak-mampuan untuk mendiasnosis secara dini karena keanehan gejalanya, yang serupa dengan malaria termasuk demam.

Ia menambakan hanya ada sedikit pusat diagnosis buat penyakit tersebut dan itu adalah salah satu masalah untuk mendiagnosisnya.

Pada Selasa pagi, Kepala Direktur Medis LUTH Chris Bode mengatakan tidak kurang dari 100 pekerja kesehatan yang terpajan kasus indeks saat ini sedang dipantau. "Masing-masing dari kedua pasien menghubungi rumah sakit saat sudah sangat terlambat dan meninggal meskipun berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan mereka," ia menambahkan.

"Yang pertama adalah perempuan hamil yang berusia 39 tahun, dengan gangguan pendarahan dan ia meninggal setelah melahirkan bayi dalam keadaan meninggal," katanya.

Bode mengatakan pemeriksaan autopsi telah dilakukan sebelum status Demam Lassanya akhirnya dikonfirmasi. Ia juga mengkonfirmasi bahwa seorang dokter yang menetap di rumah sakit dari Department of Anatomic and Molecular Pathology, yang ikut dalam autopsi itu, belakangan dikonfirmasi terserang penyakit tersebut.

Bode mengatakan dokter itu saat ini dirawat dan menanggapi dengan baik pada pengobatan di Ruang Isolasi LUTH. Ia menambahkan dua lagi kasus dugaan dari negara bagian tersebut diterima dan dikarantina sementara mereka menjalani pemeriksaan laboratorium untuk konfirmasi.

Demam Lassa adalah penyakit demam akut, dengan pendarahan dan kematian dalam kasus parah, dan disebabkan oleh Virus Demam Lassa dengan masa inkubasi enam-21 hari. Virus itu, anggota keluarga virus Arenaviridae, ditularkan oleh binatang.

Sebanyak 80 persen penularan pada manusia tanpa gejala, sedangkan kasus yang ada memiliki banyak penyakit organ parah, tempat virus tersebut mempengaruhi beberapa organ tubuh, seperti liver, limpa dan ginjal. Demam Lassa adalah penyebab utama penyakit parah dan kematian.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement