Senin 04 Dec 2017 08:20 WIB

Kebiasaan Menembak ke Udara Makan Korban di Benghazi

Kekerasan melanda Libya (ilustrasi)
Foto: Reuters/Esam Omran Al-Fetori
Kekerasan melanda Libya (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI -- Setelah bertahun-tahun pertempuran sengit antara pasukan militer dan kelompok garis keras, Kota Benghazi di Libya Timur terus dirongrong kondisi rawan keamanan. Warga Benghazi memiliki kebiasaan menembakkan senjata ke udara dalam kegiatan masyarakat.

Menembakkan senjata ke udara dalam kegiatan sosial adalah tradisi lama di Libya. Namun, Benghazi menyaksikan lebih banyak penembakan senjata dalam perayaan saat kota tersebut baru saja muncul dari perang tiga-tahun, yang membuat senjata jadi salah satu barang paling penting di setiap rumah.

"Ini telah menjadi tak tertahankan, meskipun instruksi militer dan lembaga keamanan yang melarang penembakan secara acak ke udara selama perkawinan atau pemakaman," kata pegiat Libya Faraj Al-Jalali.

"Peluru ini mempengaruhi lelaki, perempuan, anak dan orang tua setiap pekan. Setiap orang takut peluru mungkin melukai orang yang lewat atau bahkan sedang duduk di dalam rumah atau restoran," ujar Al-Jalali.

Tak ada data yang tepat mengenai korban peluru nyasar yang telah dikeluarkan. Namun, seorang pejabat medis di satu rumah sakit pemerintah mengatakan rumah sakit tempatnya bekerja saja tahun ini menerima lebih dari 80 orang yang tewas dan cedera oleh peluru yang ditembakkan saat perayaan.

Meskipun ada instruksi dari Jenderal Abdrazzag An-Nathuri dari Angkatan Darat Wilayah Timur kepada lembaga keamanan untuk menangkap semua orang yang melepaskan tembakan secara membabi-buta, dan meskipun ada demonstrasi dan kegiatan oleh pegiat untuk menentang fenomena itu, penembakan senjata saat perayaan tetap menjadi masalah di Benghazi.

Gelombang pengutukan dan keputusan pemerintah dikeluarkan setelah satu gambar kamera muncul di Internet dan memperlihatkan penembakan senjata secara serampangan menewaskan seorang lelaki muda di Benghazi di depan satu kafetaria sekitar dua bulan lalu.

"Apakah mereka membebaskan kita untuk membunuh kita? Kebanyakan orang yang melepaskan tembakan secara serampangan ke udara adalah pemuda yang mendukung militer melawan organisasi teror di Benghazi," kata Khadija Al-Ayeb, ibu rumah tangga yang berusia 40 tahun, kepada Xinhua.

"Generasi muda telah jadi terbiasa dengan suara peluru sebab mereka menghabiskan lebih dari tiga tahun penuh dalam pertempuran di Benghazi, cukup lama untuk mengubah perilaku mereka di masyarakat," kata ibu rumah tangga itu.

"Dinas keamanan menganggap semua warga sipil yang memiliki senjata sebagai mitra dalam perang melawan organisasi teror, sebab kebanyakan mereka yang membawa senjata di sini telah ikut dalam perang membebaskan kota ini dari pelaku teror," kata Khadija Al-Ayeb.

Benghazi, kota terbesar kedua di Libya dan tempat kelahiran aksi perlawanan 2011 yang menggulingkan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, telah mengalami perang tiga tahun antara militer yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar dan kelompok garis keras.

Haftar pada awal Juni mengumumkan pengambilalihan seluruh Kota Benghazi dan mengalahkan kelompok bersenjata yang menjadi pesaingnya. Namun, sebagian sisa gerilyawan masih berada di beberapa daerah di kota tersebut.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement