Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Derita Anak-Anak Suriah di Kamp Pengungsian Lebanon

Senin 18 Feb 2019 14:17 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nur Aini

 Pengungsi Suriah bersiap meninggalkan negaranya untuk mencapai Arsal, kota perbatasan Lebanon Kamis (28/6).

Pengungsi Suriah bersiap meninggalkan negaranya untuk mencapai Arsal, kota perbatasan Lebanon Kamis (28/6).

Foto: AP Photo/Bilal Hussein
Sebagian anak-anak Suriah jadi pekerja anak di perkebunan Lebanon.

REPUBLIKA.CO.ID, ARSAL -- Di ruang tamu yang gelap dan lembab, seorang bocah lelaki duduk bersandar, membungkuk. Dia duduk sendiri di atas bantal lantai berpola hijau. Pandangannya ke lantai yang terbungkus selimut. Dia meringkuk di dekat kompor keluarga. Namanya Abdul Al Moamen berusia 10 tahun.

Sementara ayahnya, Muhammad menapaki lantai beton kasar membawa setumpuk kertas. Kertas-kertas berisi laporan medis yang tertulis dalam bahasa Prancis. Muhammad tidak bisa membaca laporan itu.

Seperti dilansir di The Independent, seharusnya Moamen sudah menjalani operasi jantung dua tahun lalu. Langkah medis satu-satunya untuk memperpanjang hidup Moamen.

Direktur Muslim Aid, sebuat LSM yang berbasis di Inggris untuk Libanon, Ahmed Fawzi membahas masalah Moamen dan menyatakan segera mengambil tindakan. Mendengar itu, diam-diam Moamen menangis. Air matanya mengalir melalui pipi tirusnya menuju bibir berwarna biru tua. Moamen menunjukkan tanda sianosis yang menandakan kelainan jantung.

Keluarga Moamen, seperti banyak pengungsi Suriah lainnya hanya mengandalkan bantuan PBB sebesar tidak lebih dari 1 dolar AS untuk bertahan hidup. Ayahnya yang pekerja, saat ini menganggur. Tidak tidak memiliki dana sebesar 50 ribu dolar AS untuk kemungkinan menyelematkan nyawa putranya.

Malahan, keadaan memaksanya untuk meminjam uang untuk biaya makanan dan sewa keluarganya. Moamen tidak sendiri. Hampir sembilan dari setiap 10 pengungsi Suriah di Lebanon mengatakan mereka berutang kepada pemilik toko dan tuan tanah.

Moamen dan keluarganya, termasuk di antara 60 ribu pengungsi di 6.000 tenda di wilayah Arsal, Lebanon timur. Kamp al-Wafa tempat mereka tinggal, menjadi tuan rumah bagi 700 warga Suriah yang meninggalkan rumah mereka pada saat perang saudara pecah pada 2012.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi mengklaim sebanyak 948.849 pengungsi Suriah, terdaftar di Lebanon. Namun, angka aktual dari kota dan pemerintah pusat melaporkan bahwa 1,5 juta pengungsi telah melintasi perbatasan. Ditambah, sebanyak 450 ribu warga Palestina menurut data Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB.

“Apa pilihan saya sekarang, ini yang buruk di sini atau yang terburuk di Suriah,” pengungsi dari Homs,  Ahmed Slabi (45).

Dia harus meninggalkan kehidupannya. Dia tak mengharap atau meminta apapun. Dia bertahan hidup dari bantuan internasional, sebuah paria sosial, mengemis di negara yang bukan miliknya.

“Penduduk lokal Arsal telah berbaik hati kepada kami, mereka menyambut kami dan membantu kami saat kami sangat membutuhkannya, tetapi ketika komunitas mereka berjuang sendiri, mau tak mau, mereka menjadi bosan dengan kehadiran kami. Kami sekarang lelah berada di sini,” kata Slabi.

Ini adalah krisis pengungsi terbesar di dunia. Sejumlah negara, seperti Lebanon memberikan perlindungan bagi jutaan orang, berbagi akses ke pendidikan, rumah sakit, dan layanan lainnya dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan krisis sekarang, tidak ada akhir jelas sampai kapan bantuan itu harus diberikan. Sementara dana kemanusiaan internasional tampak mulai tidak pasti untuk 2019. Apakah dunia sudah cukup dengan krisis itu?

Seorang ayah dari lima anak, Ahmed dihadapkan dengan dilema, memilih tinggal dan kelaparan di Kamp Aedoun atau menempuh perjalanan sejauh 80 km melewati jalan gunung ke rumahnya di Suriah. Tidak ditutup kemungkinan, keluarganya akan tetap kelaparan di Suriah.

“Tolong kami, kami tidak bisa bertahan di sini seperti ini lagi,” permohonan seorang pria yang kelelahan dengan kondisinya.

Banyak orang Suriah merenungkan perjalanan pulang yang sulit, ke kota-kota dan desa tempat mereka melarikan diri, banyak yang hanya mengenakan pakaian, tidak yakin sekarang apakah mereka masih memiliki rumah untuk kembali.

Catatan UNHCR menunjukkan, saat ini hanya 12.620 pengungsi telah secara sukarela kembali ke Suriah. Hanya 1.398 yang melakukannya dari Lebanon - 0,1 persen tidak jelas.

Pengungsi berisia 92 tahun, Fuda Al-Bareesh menghabiskan hari-harinya sendirian di tenda. Melalui mata birunya, dia antusias menyambut tirai tendanya terbuka menerka siapa yang mengunjunginya. Perjalanannya dari Suriah dengan keledai juga dilakukan sendirian. Hingga hari ini, dia belum mendengar kabar tentang anak-anaknya sejak tepisah pada 2012.

Kepala Muslim Aid, Jehangir Malik mengatakan udara musim dingin di Inggris mengingatkannya pada pengungsi di Lebanon. Melalui tim lokal, Muslim Aid membawa bahan bakar, pemanas, kasur, dan selimut untuk memberi kenyamanan pada pengungsi.

Namun, Malik harus tetap melobi untuk mendapat lebih banyak dukungan internasional bagi Libanon yang menyediakan tempat perlindungan sementara bagi begitu banyak orang yang melarikan diri dari kekerasan dan pergolakan yang sedang berlangsung di Suriah. Badai Norma dan Miriam telah meninggalkan genangan air di antara tenda-tenda pengungsi di kamp Pengungsi Somakia di Kota Akkar, Lebanon utara.

Seorang anak berusia delapan tahun, Qaram duduk di kursi plastik hijau. Sebuah perban tebal menutupi mata kanannya. Dia malu dengan kenyataan itu. Sebenarnya, Qaram sangat membutuhkan operasi untuk menyelamatkan penglihatannya.

Qaram adalah seorang yatim piatu. Ayahnya dibunuh oleh ISIS yang mencurigainya berpihak pada rezim Suriah di Akesh di Sulaymaniyah timur. Sementara ibunya yang sangat sedih, meninggalkan Qaram dan lima saudara kandungnya ketika dia baru berusia dua tahun. Qaram dirawat oleh keluarga besar.

Para petani setempat mengunjungi kamp-kamp pengungsi untuk merekrut anak-anak bekerja menanam dengan bayaran 3 dolar AS per hari. Unicef mengidentifikasi sekitar 180 ribu OOSC Suriah (anak-anak di luar sekolah) di Lebanon, dipaksa menjadi pekerja anak di pertanian dan di pabrik-pabrik untuk membantu keluarga. Padahal, pendidikan adalah kunci untuk memberdayakan generasi Suriah berikutnya.

Direktur eksekutif Educate A Child, Mary Joy Pigozzi program Educate A Child EAA bermitra dengan UNRWA dan AS untuk membantu anak-anak Suriah dan Palestina di Libanon. Dana untuk Unicef untuk meningkatkan akses pendidikan untuk OOSC akan menyediakan sistem dukungan keterampilan psikososial dan keterampilan bertahan hidup, meningkatkan kualitas pengajaran, memastikan lingkungan belajar yang aman, membangun/merehabilitasi ruang belajar, dan melatih staf manajemen sekolah.

Pengungsi Suriah di Lebanon masih lebih rentan dari sebelumnya. Sebab, lebih dari setengahnya hidup dalam kemiskinan ekstrem dan tiga per empat ada di bawah garis kemiskinan. Delapan tahun setelah krisis, para pengungsi Suriah di Libanon lebih bergantung pada bantuan. Dengan dukungan terus-menerus dari komunitas internasional dan kesabaran serta rahmat yang baik dari orang-orang Lebanon, mungkin suatu hari para pengungsi bisa melakukan perjalanan pulang.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA