Ahad 20 Aug 2023 22:41 WIB

Pengungsi Suriah di Idlib Berjuang Hidup di Bawah Panas Ekstrem

Pengungsi Suriah di Idlib berjuang hidup di bawah suhu 50 derajat celcius

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Pengungsi Suriah di Provinsi Idlib berjuang untuk bertahan hidup di tenda-tenda darurat di bawah suhu panas ekstrem mencapai 50 derajat celcius.
Foto: EPA
Pengungsi Suriah di Provinsi Idlib berjuang untuk bertahan hidup di tenda-tenda darurat di bawah suhu panas ekstrem mencapai 50 derajat celcius.

REPUBLIKA.CO.ID, IDLIB -- Pengungsi Suriah di Provinsi Idlib berjuang untuk bertahan hidup di tenda-tenda darurat di bawah suhu panas ekstrem mencapai 50 derajat celcius. Suhu terik mempersulit warga yang tinggal di tenda-tenda darurat dengan mayoritas perempuan dan anak-anak.

Gelombang panas ekstrim dapat berakibat fatal bagi penderita penyakit kronis, dan dapat menyebabkan berbagai masalah kulit pada anak-anak. Penghuni kamp yang kesulitan untuk mendapatkan air di daerah tersebut mencoba mendinginkan tenda dengan cara primitif.

Baca Juga

Mohammed Damis, yang melarikan diri dari pengeboman tentara Suriah pada 2019 dan berlindung di kamp Andalusia di desa Zerdene mengatakan, penduduk di wilayah tersebut mengalami hari yang sulit karena cuaca sangat panas. Damis mengatakan, penduduk kekurangan kebutuhan hidup dasar. Bahkan orang dewasa dan anak-anak kerap mengeluhkan tentang panasnya kamp darurat.

 “Untuk mengurangi pengaruh sinar matahari, kami membawa mobil tangki berisi air dan menyemprotkan ke tenda-tenda,” ujar Damis, dilaporkan Anadolu Agency, Sabtu (19/8/2023).

Damis mengatakan, di penghujung hari, suhu turun menjadi 45 derajat celcius di luar. Tetapi di dalam tenda suhunya tetap 51 derajat celcius. Damis mengatakan, hidup di dalam tenda sangat sulit.

"Tidak ada baterai di tenda, dan tidak ada kipas angin. Kami mengisi baskom besar dengan air untuk mendinginkan bayi," kata Damis.

 Sementara itu, penghuni kamp lainnya, Mohammed Cesim mengatakan, dia telah tinggal di kamp pengungsi yang sama selama empat tahun dan tendanya mulai rusak. Cesim berharap ada panel energi surya di tenda untuk menghidupkan listrik, sehingga pengungsi bisa menyalakan kipas angin.

 “Ini adalah hari-hari tersulit dalam hidup kami. Kami tidak dapat melakukan apa pun. Kami tidak bisa duduk atau tidur karena panas terik," ujar Cesim.

 Sekitar 1,9 juta orang terlantar tinggal di sekitar 1.430 kamp atau lokasi pemukiman sendiri di Suriah barat laut. Menurut PBB, sebagian besar penduduk kamp adalah perempuan dan anak-anak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement