Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Adik PM Inggris Mundur dari Parlemen dan Jabatan Menteri

Jumat 06 Sep 2019 08:28 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Ayah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Stanley Johnson (kiri), saudari Boris Rachel Johnson, dan adiknya Jo Johnson ketika Boris diumumkan sebagai perdana menteri di London, Inggris, 23 Juli 2019.

Ayah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Stanley Johnson (kiri), saudari Boris Rachel Johnson, dan adiknya Jo Johnson ketika Boris diumumkan sebagai perdana menteri di London, Inggris, 23 Juli 2019.

Foto: Stefan Rousseau/Pool Photo
Jo Johnson mundur karena ada konflik kepentingan.

REPUBLIKA.CO.ID, WAKEFIELD -- Adik Perdana Menteri Inggris Boris Johnson keluar dari Partai Konservatif. Jo Johnson mengatakan pengunduran dirinya dari jabatan menteri muda dan anggota parlemen karena konflik antara kepentingan keluarga dan Inggris.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa masih belum jelas, sementara pemilihan umum pun semakin dekat. Pilihannya dari Brexit digelar tanpa kesepakatan sampai membatalkannya sama sekali.

Sebelum Boris Johnson memulai pidatonya di Wakefield, adiknya Jo mengundurkan diri dari jabatan menteri dan anggota parlemen Partai Konservatif. Pengunduran diri itu tepat ketika perdana menteri menghadapi pekan yang sangat sibuk.

“Dalam beberapa pekan saya terganggu antara loyalitas keluarga dan kepentingan nasional. Ini adalah ketegangan yang tak terselesaikan dan waktunya bagi orang lain untuk menjalankan peran saya,” cicitnya di Twitter, Jumat (6/9).

Pada referendum 2016, Jo Johnson mendukung Inggris tetap bertahan di Uni Eropa. Sementara kakaknya menjadi wajah Brexit. Laki-laki berusia 47 tahun itu sudah menjadi Anggota Parlemen sejak 2010.

Boris Johnson mengatakan adiknya seorang anggota Parlemen yang brilian, bertalenta dan fantastis dan keputusan ini tidak diambil dengan mudah. Pada Rabu (4/9) lalu Johnson kalah di parlemen.

Persekutuan antara oposisi dan anggota Partai Konservatif yang membelot memaksanya membujuk Uni Eropa memperpanjang tenggat waktu Brexit bila ia gagal menegosiasikan ulang kesepakatan yang dibuat mantan perdana menteri Theresa May.

Tapi Johnson tidak ingin Brexit ditunda lebih lama lagi. Ditanya apakah ia akan meminta perpanjangan waktu lagi, "Saya lebih baik mati di selokan," katanya.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA