Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Mantan Presiden AS Jimmy Carter Kembali Dirawat di RS

Selasa 03 Dec 2019 15:00 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Jimmy Carter

Jimmy Carter

Foto: Reuters
Jimmy Carter kembali masuk RS akhir pekan lalu karena infeksi saluran kemih

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Jimmy Carter kembali dirawat di rumah sakit pada akhir pekan lalu karena infeksi saluran kemih. Dirawatnya Carter kali ini kurang dari sepekan setelah ia meninggalkan rumah sakit Atlanta usai dua pekan dirawat.

"Mantan Presiden AS Jimmy Carter dirawat di Phoebe Sumter Medical Center di Americus, Ga., akhir pekan lalu untuk perawatan infeksi saluran kemih," demikian bunyi pernyataan dari Carter Center seperti dikutip CNN, Selasa (3/12).

"Kini dia merasa lebih baik dan berharap segera kembali ke rumah. Kami akan mengeluarkan pernyataan ketika beliau dipulangkan untuk istirahat lebih lanjut dan pemulihan di rumah," pernyataan tersebut menambahkan.

Carter sebelumnya dirawat di rumah sakit pada 11 November untuk prosedur dalam meringankan tekanan pada otaknya. Tekanan itu disebabkan oleh pendarahan dari kejatuhannya baru-baru ini.

Mantan presiden berusia 95 tahun ini dirawat di rumah sakit dua kali pada Oktober. Ia menderita mata hitam dan menerima 14 jahitan di atas alisnya setelah jatuh pertama kali. Dia kemudian menerima perawatan untuk fraktur panggul minor setelah jatuh kedua.

Dia sebelumnya sembuh dari kanker otak dan hati. Carter merayakan ulang tahunnya yang ke-95 pada tanggal 1 Oktober. Dia merupakan mantan presiden AS tertua dalam sejarah, gelar yang pernah dipegang oleh George HW Bush, yang meninggal pada akhir 2018 di usia 94 tahun.

Terlepas dari usia dan komplikasi kesehatannya, Carter belum mengurangi kesukarelaannya. Bersama istrinya Rosalynn Carter, ia telah menjadi relawan untuk Habitat for Humanity selama 35 tahun dengan membangun rumah di seluruh AS dan di seluruh dunia. Mereka telah bekerja bersama 103 ribu sukarelawan di 14 negara termasuk India, Korea Selatan, dan Filipina.

Bulan lalu, Carter mengatakan,dirinya sudah berada pada titik di mana benar-benar merasa berdamai dengan kematian. Hal itu diungkapkan setelah dokter mengatakan kepadanya pada 2015 bahwa kankernya telah menyebar ke otaknya.

"Saya berasumsi, secara alami, bahwa saya akan mati dengan sangat cepat," kata Carter saat kebaktian di kota kelahirannya di Plains, Ga. "Saya jelas berdoa tentang hal itu. Saya tidak meminta Tuhan membiarkan saya hidup. Tetapi saya  meminta Tuhan untuk memberi saya sikap yang pantas terhadap kematian. Dan saya mendapati bahwa saya benar-benar merasa nyaman dengan kematian," kata Carter.

"Tidak masalah bagiku apakah aku mati atau hidup. Kecuali aku akan merindukan keluargaku dan kehilangan pekerjaan di Carter Center dan ketinggalan mengajar kebaktian sekolah Minggu kamu kadang-kadang dan sebagainya. Semua hal yang menyenangkan," ujar presiden ke-39 itu menambahkan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA