Senin 13 Feb 2023 18:33 WIB

Kompensasi Rasial terhadap Suku Aborigin, Australia Gelontorkan Rp 4,4 Triliun

Pada 2088 pemerintah Australia minta maaf kepada penduduk pribumi Australia, Aborigin

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Pemerintah Australia mengumumkan akan menggelontorkan tambahan dana kompensasi untuk suku Aborigin
Foto: AP/Rick Rycroft
Pemerintah Australia mengumumkan akan menggelontorkan tambahan dana kompensasi untuk suku Aborigin

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Lima belas tahun setelah permintaan maaf bersejarah Parlemen Australia kepada penduduk asli Aborigin serta atas kesalahan masa lalu, pemerintah Australia pada Senin (13/2/2023), mengumumkan akan menggelontorkan tambahan dana 424 juta dolar Australia (293 juta dolar AS) atau senilai Rp 4,4 triliun. Pemberian dana tersebut atas kompensasi untuk memperbaiki kehidupan warga Aborigin, penduduk asli Australia.

Pada tahun 2008, pemerintah Partai Buruh kiri-tengah yang baru terpilih, memutuskan meminta maaf kepada penduduk pribumi Australia, Aborigin atas undang-undang dan kebijakan parlemen dan pemerintah Australia pada zaman dahulu. Kebijakan rasial itu telah menimbulkan kesedihan, penderitaan, dan kehilangan yang mendalam pada sesama warga Australia ini.

Fokus dari permintaan maaf tersebut adalah apa yang disebut Stolen Generations — 100 ribu anak yang diambil dari ibu Pribumi di bawah kebijakan asimilasi hampir sepanjang abad ke-20. Permintaan maaf itu disertai dengan janji ambisius untuk menutup kesenjangan harapan hidup antara penduduk asli Australia dan populasi yang lebih luas dalam satu generasi.

Ukuran utama perbedaan antara penduduk asli dan lainnya telah dilacak setiap tahun dalam Laporan Menutup Kesenjangan untuk mengidentifikasi dan mengurangi berbagai kerugian. Laporan tersebut menunjukkan kesenjangan yang melebar di beberapa daerah, termasuk dengan meningkatnya tingkat bunuh diri dan penahanan di antara masyarakat adat Aborigin.

Perdana Menteri Anthony Albanese, yang pemerintahan Partai Buruhnya dipilih pada Mei 2022 setelah sembilan tahun menentang, mengatakan kepada Parlemen bahwa pendanaan baru tersebut menegaskan kembali "Menutup Kesenjangan sebagai prioritas utama pemerintah saya."

Penduduk asli, terhitung 3,2 persen dari populasi Australia pada sensus 2021, adalah kelompok etnis yang paling tidak beruntung di negara benua ini. Mereka meninggal lebih muda daripada orang Australia lainnya, lebih kecil kemungkinannya untuk dipekerjakan, mencapai tingkat pendidikan yang lebih rendah dan terwakili secara berlebihan dalam populasi penjara.

“Ini bukan celah, itu jurang,” kata Albanese tentang tindakan kerugian Pribumi.

Di atas 1,2 miliar dolar Australia (830 juta dolar AS) pengeluaran untuk masyarakat pribumi yang diumumkan pada bulan Oktober tahun lalu, pendanaan baru tersebut mencakup 150 juta dolar Australia (104 juta dolar AS) selama empat tahun untuk menyediakan air minum bersih bagi komunitas Pribumi Pedalaman.

Kemudian senilai 22 juta dolar Australia (15 juta dolar AS) akan dihabiskan selama lima tahun untuk memerangi kekerasan keluarga. "Perempuan dan anak-anak pribumi 34 kali lebih mungkin mengalami kekerasan keluarga dan rumah tangga dibandingkan warga Australia lainnya," kata pemerintah Australia.

Dalam tiga tahun tepat sebelum permintaan maaf dan janji Tutup Kesenjangan, rata-rata pria Pribumi Aborigin berusia lebih singkat dari rata-rata pria Australia. Begitu juga wanita Pribumi Aborigin berusia lebih singkat dari wanita Australia lainnya, menurut Biro Statistik Australia.

Satu dekade kemudian, kesenjangan itu menyempit, menurut data terbaru biro tersebut. Kini usia harapan hidup pria pribumi Aborigin memiliki harapan hidup 71 tahun dan wanita pribumi 75 tahun.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement