Jumat 31 Mar 2023 10:33 WIB

Cina: AUKUS Bawa Kerugian dan Bukan Manfaat Bagi Kawasan Asia Pasifik

AUKUS berisiko proliferasi nuklir.

File foto Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, berbicara ketika Presiden Joe Biden mendengarkan selama konferensi pers dengan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, di Naval Base Point Loma, Senin, 13 Maret 2023, di San Diego, saat mereka mengungkap, AUKUS, pakta keamanan trilateral antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.
Foto: Foto AP/Evan Vucci
File foto Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, berbicara ketika Presiden Joe Biden mendengarkan selama konferensi pers dengan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, di Naval Base Point Loma, Senin, 13 Maret 2023, di San Diego, saat mereka mengungkap, AUKUS, pakta keamanan trilateral antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Cina memperingatkan bahwa pakta pertahanan AUKUS akan membawa kerugian, alih-alih manfaat, sekaligus memicu perlombaan senjata di Asia Pasifik. "AUKUS merugikan, tidak menguntungkan. Lingkaran kecil semacam ini, yang didominasi oleh mentalitas Perang Dingin, tidak bermanfaat dan sangat berbahaya," kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Cina Tan Kefei dalam jumpa pers di Beijing, Kamis (30/3/2023).

Tan merujuk pada pakta trilateral yang ditandatangani oleh AS, Inggris, dan Australia, yang akan memfasilitasi Canberra untuk mendapatkan kapal selam bertenaga nuklir. Menurut Tan, AUKUS berisiko proliferasi nuklir dan dia memperingatkan bahwa kesepakatan itu akan memicu perlombaan senjata serta meningkatkan ketegangan regional.

Baca Juga

"Kerja sama semacam itu merupakan perpanjangan dari kebijakan pencegahan nuklir masing-masing negara, dan itu adalah alat permainan bagi mereka untuk membangun 'NATO versi Asia-Pasifik' dan mempertahankan hegemoni mereka sendiri," kata Tan.

"Ini telah serius berdampak pada perdamaian dan stabilitas kawasan Asia-Pasifik, dan banyak negara di kawasan ini sangat mengkhawatirkan hal ini," ujar dia, menambahkan.

Tan meminta Washington, London, dan Canberra untuk mengenali kecenderungan umum saat ini, meninggalkan egoisme yang merugikan orang lain dan menguntungkan diri mereka sendiri, mendengarkan suara komunitas internasional dengan pikiran terbuka, sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawab dan kewajiban internasional mereka, serta melakukan lebih banyak hal yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas kawasan.

Lebih lanjut, Tan menyatakan sikap tegas Beijing yang menentang narasi 'ancaman Cina' yang dijadikan alasan oleh negara-negara Barat untuk meningkatkan anggaran militernya. "Untuk waktu yang lama, Amerika Serikat memiliki anggaran pertahanan tertinggi di semua negara di dunia, dan Amerika Serikat juga mengobarkan perang dan menciptakan kekacauan di mana-mana," kata Tan.

Menegaskan bahwa Cina adalah pembangun perdamaian dunia, dia menuding AS sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian, keamanan, dan stabilitas dunia. "Pada saat yang sama, kami mendesak pihak Inggris untuk memperbaiki mentalitasnya, mempertahankan pemahaman yang benar tentang Cina, dan berhenti membesar-besarkan apa yang disebut 'tantangan Cina'," ujar Tan.

Mengenai kekhawatiran yang diangkat oleh Jepang dan Filipina atas aktivitas Cina di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan, Tan mengatakan bahwa Beijing berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia-Pasifik.

"Untuk jangka waktu tertentu, beberapa negara telah menganut mentalitas Perang Dingin dan konsep zero-sum game dan menggunakan apa yang disebut 'paksaan Cina' dan 'ancaman militer Cina' untuk terlibat dalam ekspansi militer ekspansi. Kami menentang keras hal ini," kata Tan.

sumber : Antara/Anadolu
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement