REPUBLIKA.CO.ID, NIAMEY -- Junta Niger akan memastikan penarikan pasukan Prancis dari negara tersebut berlangsung tertib dan aman. Junta Niger pada Kamis (5/10/2023) malam mengatakan, 400 tentara Prancis yang berbasis di Kota Ouallam akan menjadi orang pertama yang meninggalkan negara itu.
"Sebuah pangkalan udara di Ibu Kota Niamey, tempat sebagian besar tentara Prancis ditempatkan, akan dibongkar pada akhir tahun ini," kata junta Niger dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di radio nasional.
Prancis akan mulai menarik pasukannya dari Niger pekan ini. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, dia menolak untuk “disandera” oleh para pemberontak dan mengakhiri kerja sama militer dengan negara Afrika Barat tersebut.
Keputusan Prancis untuk menarik 1.500 tentaranya dari Niger meninggalkan lubang besar dalam upaya Barat untuk melawan pemberontakan ekstremis yang telah berlangsung selama satu dekade di Sahel. Langkah ini juga memberikan pukulan terhadap pengaruh Prancis di wilayah tersebut. Junta Niger meminta warga untuk waspada selama masa transisi ini.
"Ini dilakukan sehubungan dengan kepentingan dan kondisi kami," ujar pernyataan junta Niger.