Jumat , 19 May 2017, 09:29 WIB

Lavrov: Tak Ada Rahasia yang Disampaikan Trump

Red: Ani Nursalikah
Russian Foreign Ministry/EPA
President AS Donald Trump (tengah) berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (kiri) dan Duta Besar Rusia Sergey Kislyak di Gedung Putih, 10 Mei 2017.
President AS Donald Trump (tengah) berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (kiri) dan Duta Besar Rusia Sergey Kislyak di Gedung Putih, 10 Mei 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, NIKOSIA -- Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Kamis (18/5) membantah laporan pers AS Presiden Donald Trump memberikan informasi rahasia kepada dia ketika mereka bertemu baru-baru ini di Gedung Putih.

Selama kunjungan kerja ke Siprus, Lavrov mengatakan apa yang sesungguhnya dikatakan Trump kepada dia ialah anggota ISIS mampu memasukkan peledak yang tak bisa dilacak ke dalam laptop.

"Seingat saya, barangkali satu bulan atau dua bulan sebelumnya, Pemerintah Trump membuat larangan resmi orang membawa laptop di dalam pesawat dari tujuh negara Timur Tengah. Jadi, jika Anda berbicara mengenai itu, saya tak melihat rahasia di sini," kata Lavrov kepada wartawan selama taklimat di Nikosia bersama Menteri Luar Negeri Siprus Ioannis Kasoulides.

Komentar Lavrov mengenai masalah tersebut adalah yang pertama sejak pertemuannya dengan Trump dan setelah dugaan disampaikan oleh dua pejabat AS pada 15 Mei bahwa Presiden AS telah membocorkan rahasia kepada Lavrov mengenai operasi yang direncanakan oleh ISIS.

Lavrov tiba di Nikosia pada Kamis untuk menghadiri pertemuan menteri luar negeri Dewan Eropa pada akhir kepresidenan Siprus pada Mei. Dalam satu pernyataan, Lavrov juga mengatakan Rusia ingin meningkatkan hubungan dengan Uni Eropa (UE).

"Kondisi hubungan saat ini tak menguntungan pihak mana pun," katanya. Ia menyampaikan harapan bagi penilaian-kembali kondisi tersebut yang akan menghasilkan keterlibatan kembali yang saling menguntungkan.

Ia mengatakan hubungan tersebut harus dilandasi atas saling menghormati. Ketika berbicara mengenai Ukraina, masalah yang melahirkan sanksi UE atas Rusia, Lavrov mengatakan ia mendukung penerapan penuh Kesepakatan Minsk, dan menyalahkan Kiev karena tidak melaksanakan kesepakatan itu.

"Tindakan baru-baru ini oleh Pemerintah Ukraina memperlihatkan negara tersebut tak ingin atau tak mampu melakukannya," tambah Lavrov.

Sumber : Antara