Selasa , 14 November 2017, 13:46 WIB

Takdir Anak-Anak Rohingya

Red: Elba Damhuri
Cathal McNaughton/Reuters
Wajah nak-anak Rohingya di sebuah kamp pengungsi di Cox Bazaar, Bangladesh
Wajah nak-anak Rohingya di sebuah kamp pengungsi di Cox Bazaar, Bangladesh

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Crystal Liestia Purnama

Tiba di Bangladesh, mereka harus bekerja dengan upah murah.

Menjadi Rohingya seakan membeli label bagi nasib yang tak indah. Bahkan, sejak usia dini, menjadi Rohingya membuat hidup mereka tak semudah anak-anak lain.

Organisasi International untuk Migrasi (IOM) menemukan fakta anak-anak Rohingya yang mengungsi di Bangladesh harus bekerja dengan upah yang minim. Tidak hanya itu, banyak dari mereka juga mengalami kekerasan fisik dan verbal. Laporan independen dari Reuters menguatkan fakta tersebut.

Sekitar 55 persen dari populasi pengungsi Rohingya yang tinggal di permukiman kumuh dekat perbatasan dengan Myanmar adalah anak-anak, atau sekitar 450 ribu anak. Temuan dari IOM berdasarkan diskusi secara kontinu dengan para pendatang ditambah hasil wawancara dari tim Reuters menunjukkan kehidupan mereka di pengungsian tidak lebih baik daripada kehidupan mereka sebelumnya di Rakhine, Myanmar.

Menurut IOM, para agen tenaga kerja melirik anak-anak di bawah umur dan orang tua mereka yang terdesak kebutuhan hidup untuk bekerja.

Di tengah kondisi gizi buruk yang semakin parah dan kemiskinan, mereka terpaksa bersedia bekerja meski dengan upah yang sama sekali tidak layak untuk pekerjaan berat yang telah mereka kerjakan. Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan dengan usia di atas tujuh tahun, dipastikan keluar dari permukiman mereka setiap hari untuk bekerja. Kebanyakan anak laki-laki bekerja di peternakan, lokasi pengolahan dan kapal penangkap ikan, kedai the, atau menjadi sopir becak.

Sedangkan, untuk anak perempuan biasanya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan pengasuh untuk keluarga-keluarga warga Bangladesh. Baik di kota Cox's Bazar maupun di kota besar kedua di Bangladesh, Chittagong, yang berada sekitar 150 kilometer dari kamp pengungsian mereka.

Salah satu orang tua yang enggan disebutkan identitasnya karena takut mengatakan, anak perempuannya yang berusia 14 tahun telah bekerja sebagai asisten rumah tangga di Chittagong. Namun, anak itu melarikan diri karena disiksa dan diperkosa oleh majikannya. Ia mengatakan, anaknya kembali ke pengungsian dalam keadaan tidak dapat berjalan.

“Suaminya (majikannya) adalah seorang pecandu alkohol, dia akan datang ke kamarnya (anaknya) pada malam hari dan memerkosanya. Dia melakukannya enam atau tujuh kali,” kata ibu itu. “Mereka tidak memberi kami uang. Tidak ada.” Sebagian besar pengungsi perempuan mengalami pelecehan seksual, pemerkosaan, bahkan sampai dipaksa untuk menikah dengan pemerkosanya.

Sementara, hasil wawancara Reuters dari tujuh responden yang mengirimkan anak-anaknya untuk bekerja di luar pengungsian mengakui, anak-anaknya mendapatkan upah yang tidak layak dan sering kali mendapatkan pelecehan, baik fisik maupun verbal. Seperti Muhammad Zubair (12 tahun) yang bekerja sebagai kuli bangunan untuk proyek pembangunan jalan, dijanjikan upah sebesar 250 taka per hari. Namun, pada kenyataannya, ia hanya mendapatkan upah 500 taka atau setara dengan enam dolar AS setelah bekerja selama 38 hari.

Ibunya mengakui, Zubair telah bekerja keras di proyek pembangunan jalan itu dengan meletakkan batu di jalan. Namun, saat Zubair meminta upah yang lebih layak, ia malah diusir dan dianiaya secara verbal. Zubair kemudian bekerja di kedai teh selama sebulan. Ia kembali mendapatkan siksaan dengan bekerja dua shift penuh, dengan istirahat selama empat jam di sela-sela pergantian shift. Ia bekerja mulai jam enam pagi hingga lewat tengah malam.

Zubair mengakui, dia tidak diizinkan meninggalkan kedai sama sekali dan hanya diperbolehkan berbicara dengan orang tuanya sekali via telepon. “Ketika saya tidak dibayar, saya melarikan diri. Saya takut karena saya pikir pemiliknya, majikan saya, akan datang ke sini bersama orang lain dan membawa saya lagi.”

Padahal, menurut seorang polisi pengawas di Cox's Bazar, pihaknya telah menyiapkan 11 pos pemeriksaan di dekat kamp-kamp pengungsian untuk mencegah anak-anak keluar dari kamp tersebut. “Jika ada anak Rohingya yang ditemukan bekerja, pemiliknya akan dihukum,” ujarnya.

(Tulisan diolah oleh Yeyen Rostiyani)