Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Presiden Iran: Kami Harus Melawan

Jumat 24 May 2019 02:40 WIB

Rep: Lintar Satria Zulkifar/ Red: Muhammad Hafil

Presiden Iran Hassan Rouhani

Presiden Iran Hassan Rouhani

Foto: AP
Iran menegaskan harus melawan.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan Teheran tidak akan menyerah pada tekanan Amerika Serikat. Ia mengatakan tidak akan menyerahkan tujuan negaranya bahkan jika dibom.

"Kami harus melawan, jadi musuh kami tahu jika mereka membom tanah kami dan jika anak-anak kami martir, terluka atau tertangkap kami tidak akan menyerah dengan tujuan kami untuk kemerdekaan negara dan kebanggaan kami," kata Rouhani, seperti dikutip kantor berita IRNA dalam upacara mengenang perang Irak-Iran tahun 1980-an, Kamis (24/5).

Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sempat mengatakan pemuda Iran akan menjadi saksi hancurnya peradapan Israel dan Amerika. Pernyataan ini Rouhani katakan ketika Departemen Pertahanan AS tengah mempertimbangkan permintaan militer AS untuk mengirim 5.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah.

Permintaan tersebut diajukan ketika ketegangan antara Negeri Paman Sam dengan Iran semakin memanas. Pada bulan ini Teheran dan AS saling melemparkan retorika keras.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk mencoba memotong ekspor minyak Iran sampai titik nol. Baru-baru ini ia juga meningkatkan kehadiran militer AS di kawasan Teluk untuk merespon apa yang ia sebut sebagai ancaman dari Iran.

Pejabat pemerintah AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan permintaan itu dilakukan oleh Komando Pusat AS. Ia menambahkan belum diketahui apakah Pentagon akan menyetujui permintaan tersebut atau tidak.

Secara teratur Pentagon mendapat permintaan dan selalu menolak untuk menambah pasukan ke setiap pangkalan militer mereka di seluruh dunia. Salah satu pejabat mengatakan permintaan pasukan itu akan bersifat defensif.

Belum diketahui apakah permintaan tersebut akan diajukan ke Gedung Putih atau tidak. Permintaan penambahan pasukan ini pertama kali dilaporkan kantor berita Reuters.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA