Sabtu 26 Mar 2011 06:55 WIB

Tripoli Siap Laksanakan Peta Perdamaian Uni Afrika

REPUBLIKA.CO.ID,ADDIS ABABA--Tripoli siap melaksanakan peta jalan perdamaian yang ditetapkan Uni Afrika (AU) untuk mengatasi krisis Libya, kata delegasi Moamer Kadhafi pada pertemuan AU di Addis Ababa, Jumat. "Kami siap melaksanakan peta jalan yang ditetapkan... Komite Tingkat Tinggi yang diberi mandat oleh Dewan Keamanan dan Perdamaian Uni Afrika," kata delegasi itu dalam sebuah pernyataan.

Peta jalan itu menetapkan diakhirinya segera segala permusuhan, kerja sama pihak berwenang Libya untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan, dan perlindungan bagi semua warga negara asing, termasuk pekerja migran Afrika. Delegasi Tripoli pada pertemuan itu dipimpin oleh Mohammed al-Zwai, sekretaris jendral Kongres Rakyat Umum.

Pernyataan itu menyeru masyarakat internasional mewajibkan "pihak-pihak lain" dalam konflik untuk menghormati gencatan senjata. "Libya melakukan gencatan senjata dan masyarakat internasional juga harus memberlakukan kewajiban yang sama pada pihak-pihak lain. Libya juga menyetujui misi pengamat Uni Afrika untuk mengawasi gencatan senjata," kata delegasi itu.

Pernyataan delegasi itu juga menuntut "penghentian pemboman udara dan blokade laut oleh pasukan Barat dan AS," dengan menekankan bahwa langkah-langkah ini memiliki efek yang berlawanan dari niat PBB karena serangan-serangan itu menewaskan warga sipil, bukan melindunginya. Delegasi itu juga mendesak pencabutan embargo ekonomi terhadap Libya.

Pemerintah Libya menyatakan, Kamis, jumlah korban tewas sipil akibat serangan udara koalisi selama lima hari ini telah mencapai hampir 100, dan Tripoli menuduh negara-negara Barat berperang untuk membantu pemberontak. Para pejabat militer Barat membantah ada korban tewas sipil dalam operasi menegakkan zona larangan terbang di Libya untuk melindungi penduduk sipil dari pasukan pemerintah.

Libya kini digempur pasukan internasional sesuai dengan mandat PBB yang disahkan pada Kamis lalu (17/3). Resolusi 1973 DK PBB disahkan ketika kekerasan dikabarkan terus berlangsung di Libya dengan laporan-laporan mengenai serangan udara oleh pasukan Moamer Qaddafi, yang membuat marah Barat.

Selama beberapa waktu hampir seluruh wilayah negara Afrika utara itu terlepas dari kendali Qaddafi setelah pemberontakan rakyat meletus di kota pelabuhan Benghazi pada pertengahan Februari. Namun, kini pasukan Qaddafi dikabarkan telah berhasil menguasai lagi daerah-daerah tersebut. Ratusan orang tewas dalam penumpasan brutal oleh pasukan pemerintah dan ribuan warga asing bergegas meninggalkan Libya pada pekan pertama pemberontakan itu.

Qaddafi (68) adalah pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat dasawarsa. Qaddafi bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak. Aktivis pro-demokrasi di sejumlah negara Arab, termasuk Libya, terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia dan Mesir yang berhasil menumbangkan pemerintah yang telah berkuasa puluhan tahun.

sumber : antara/AFP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement