Senin 10 Aug 2015 15:45 WIB

Pengadilan Tolak Gugatan Penentang Masjid Bedigo Australia

ilustrasi
Foto: GKA ARCHITECTS
ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE --  Pengadilan Sipil dan Administratif Victoria (VCAT) memutuskan menolak gugatan warga yang menentang rencana pembangunan masjid di Bendigo, sekitar dua jam dari Melbourne, Australia. Di bekas kota pertambangan itu, terdapat sekitar 200 warga Muslim termasuk yang berasal dari Indonesia.

Sebenarnya, Pemerintah Kota Bendigo pada Juni 2014 telah menerbitkan izin pembangunan masjid. Namun sejumlah warga setempat menolak keputusan pemerintah kota.

Salah seorang di antaranya, Julie Hoskin, membawa kasus tersebut ke Pengadilan VCAT. Alasannya, pembangunan tersebut menyebabkan masalah lalu lintas dan masalah sosial. Namun dalam putusan yang dipublikasikan pada Kamis pekan lalu (6/8), VCAT menepis adanya kekhawatiran tersebut.

"[Pengadilan] tidak menemukan ada bukti efek sosial atau lainnya yang signifikan kepada masyarakat dari pembangunan dan penggunaan masjid," katanya.

Meski izin pembangunan sudah dikantongi, tetapi bukan berarti masjid bisa dengan segera dibangun. Menurut Heri Febriyanto, juru bicara Asosiasi Muslim Bendigo, pihak yang keberatan kini akan mengajukan banding soal keputusan pemberian izin tersebut.

"Ada waktu sekitar 20 hari sejak keputusan keluar bagi pihak penentang untuk mengajukan banding," kata Heri kepada Erwin Renaldi dari ABC International.

Heri yang berasal dari Indonesia dan sudah menetap di Australia sejak tahun 1998 mengatakan, sebenarnya masjid ini dibangun karena kebutuhan dari komunitas Muslim di Bendingo. "Ada sekitar lebih dari 200 orang Muslim di Bendigo, biasanya kami menggunakan fasilitas kampus La Trobe,"kata Heri yang juga aktif di sejumlah organisasi multikultural.

"Kemudian kami merasa ingin punya tempat sendiri, yang juga bisa digunakan jika ada acara-acara khusus, seperti misalnya saat bulan puasa atau Idul Fitri," jelasnya.

Dari segi perizinan dan teknis, rencana pembangunan tidak terlalu memiliki kendala, karena komunitas Muslim sudah merangkul sejumlah pihak terkait, seperti transportasi, lalu lintas, dan lainnya.

VCAT juga telah menetapkan sejumlah prasyarat dan kondisi pada masjid, termasuk jumlah orang yang diperbolehkan berada dalam satu waktu tertentu. Begitu pula mengenai batas ketinggian menara masjid, yakni 21,4 meter, dan pembatasan jam buka masjid.

Sebelumnya para penentang pembangunan masjid ini telah menggunakan serangkaian cara untuk menolak pembangunan. Di antaranya melalui jejaring sosial, papan reklame, dan sejumlah balon berwarna hitam yang digantung di sejumlah titik kota.

"Ada kesalahpahaman dari beberapa orang yang mempertanyakan mengapa untuk jumlah anggota komunitas Islam yang sedikit tapi membutuhkan masjid yang besar," kata Heri.

sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/2015-08-10/pengadilan-tolak-gugatan-warga-penentang-masjid-bendigo-di-australia/1479776
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement