REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Anwar Gargash menyebut hubungan perdagangan dengan Qatar dapat terealisasi dalam waktu sepekan di bawah kesepakatan yang didukung Amerika Serikat. Namun memulihkan hubungan diplomatik membutuhkan lebih banyak waktu karena para pihak bekerja untuk membangun kembali kepercayaan.
Dilansir Al Arabiya pada Kamis (7/1), Gargash mengatakan langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam waktu sepekan dari perjanjian termasuk langkah-langkah praktis seperti maskapai penerbangan, pengiriman, dan perdagangan. Masih adanya perbedaan pendapat yang tersisa, termasuk masalah geopolitik dengan Turki dan kelompok Islam seperti Ikhwanul Muslimin, menjadi beberapa kendala percepatan hubungan diplomatik.
“Beberapa masalah lebih mudah diperbaiki dan beberapa lainnya membutuhkan waktu lebih lama. Kami memiliki awal yang sangat baik, tetapi kami memiliki masalah dengan membangun kembali kepercayaan," kata Gargash.
Negara-negara teluk seperti Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir memberlakukan embargo terhadap Qatar atas tuduhan mendukung terorisme dan menjalin hubungan dengan Iran. Doha membantah tuduhan itu dan mengatakan boikot itu bertujuan untuk membatasi kedaulatannya.
Kuwait dan AS telah menengahi perselisihan yang menurut Washington menghambat upaya untuk menahan Iran. Keempat negara tersebut telah menetapkan 13 syarat bagi Qatar untuk mengakhiri boikot, termasuk menutup Jaringan Media Al Jazirah, menutup pangkalan militer Turki, memutuskan hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, dan menurunkan hubungan dengan Iran.
Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan kepada Financial Times bahwa Doha telah setuju untuk menangguhkan kasus hukum terkait boikot dan bekerja sama dalam kontraterorisme dan keamanan transnasional. Akan tetapi kesepakatan itu tidak akan memengaruhi hubungan Qatar dengan Iran dan Turki.
Kekuatan Teluk Arab Saudi mengumumkan terobosan dalam mengakhiri perselisihan pahit di KTT Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) pada Selasa (5/1). Hasil pertemuan tersebut adalah Arab Saudi dan sekutunya akan memulihkan semua hubungan dengan Doha yang terputus sejak pertengahan 2017.