Kamis 16 Mar 2023 11:55 WIB

Industri Senjata Jerman Minta Kejelasan Tentang Pesanan Senjata untuk Ukraina

Industri pertahanan Jerman siap meningkatkan produksinya, tetapi butuhkan kejelasan

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Industri pertahanan Jerman meminta kejelasan mengenai pesanan senjata untuk Ukraina. Industri pertahanan siap meningkatkan produksinya, tetapi membutuhkan kejelasan tentang apa yang diinginkan pemerintah sebelum berinvestasi dalam kapasitas produksi lebih lanjut.
Foto: EPA/Diehl
Industri pertahanan Jerman meminta kejelasan mengenai pesanan senjata untuk Ukraina. Industri pertahanan siap meningkatkan produksinya, tetapi membutuhkan kejelasan tentang apa yang diinginkan pemerintah sebelum berinvestasi dalam kapasitas produksi lebih lanjut.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Industri pertahanan Jerman meminta kejelasan mengenai pesanan senjata untuk Ukraina. Industri pertahanan siap meningkatkan produksinya, tetapi membutuhkan kejelasan tentang apa yang diinginkan pemerintah sebelum berinvestasi dalam kapasitas produksi lebih lanjut.

Ukraina menjadi importir senjata terbesar ketiga di dunia pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina memicu aliran besar bantuan militer dari Amerika Serikat dan Eropa ke Kiev. Beberapa senjata itu dipindahkan dari stok militer Barat ke Ukraina.

Baca Juga

Sementara Kiev juga membeli peralatan dengan anggaran sendiri atau dana yang disediakan oleh sekutu. Tetapi tingkat penggunaan amunisi di Ukraina telah menimbulkan kekhawatiran tentang ketegangan pada kapasitas perusahaan pertahanan Barat, ketika mereka mencoba untuk menjaga militer Ukraina dan pasokan mereka sendiri.

“Yang penting bagi kami sebagai sebuah industri adalah mendapatkan prediktabilitas. Itu berarti kita harus diberi tahu dengan jelas produk mana yang dibutuhkan dalam waktu tertentu,” ujar Direktur Pelaksana Federasi Industri Keamanan dan Pertahanan Jerman, Hans Christoph Atzpodien, dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press pekan ini.

Atzpodien menyatakan, industri pertahanan siap meningkatkan produksi dengan mengaktifkan kembali fasilitas dan mesin yang sudah usang, serta mempekerjakan lebih banyak staf.

“Dan kami siap. Industri ini jauh lebih fleksibel daripada yang diakui. Tentu saja, kami juga membutuhkan dasar yang kuat dalam bentuk pesanan agar investasi dapat dilakukan,” kata Atzpodien.

Atzpodien menambahkan, proposal untuk pembelian bundel di Uni Eropa daripada di tingkat nasional dapat membantu, asalkan proses seperti itu tidak memperlambat pengadaan. Para pejabat Jerman mengatakan, pertemuan para menteri luar negeri dan pertahanan Uni Eropa menghasilkan keputusan untuk menggabungkan pembelian senjata bagi Ukraina.

"Produsen senjata di Jerman juga ingin melihat negara-negara Eropa menyelaraskan aturan ekspor mereka agar tidak dirugikan dibandingkan dengan pesaing di beberapa negara tetangga," kata Atzpodien.

Setelah awalnya ragu mengirim senjata mematikan ke Ukraina, Jerman telah menjadi salah satu pemasok senjata terbesar di Kiev. Berlin memasok puluhan senjata anti-pesawat self-propelled Gepard, sistem rudal Iris-T, howitzer, dan jutaan amunisi ke Ukraina. Tetapi langkah pemerintah memasok senjata ke Ukraina membuat beberapa orang Jerman sangat tidak nyaman, karena kemungkinan negara mereka teseret ke dalam konflik nuklir Rusia. Kendati demikian, Atzpodien mengatakan, keputusan akhir tentang pengiriman atau ekspor senjata buatan Jerman tetap menjadi urusan pemerintah.

“Sebagai perusahaan, kami setuju bahwa senjata Jerman tidak boleh jatuh ke tangan yang salah,” kata Atzpodien.

Pemerintah Jerman pada Senin (13/3/2023) menolak mengomentari laporan bahwa Rheinmetall sedang dalam pembicaraan dengan Ukraina terkait pembangunan pabrik tank di negara itu. Pengadaan senjata Jerman  berada di bawah pengawasan setelah Kanselir Olaf Scholz berjanji meningkatkan pengeluaran pertahanan untuk target NATO sebesar 2 persen dari PDB dan menciptakan dana khusus sebesar 100 miliar euro atau 107 miliar dolar AS.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement